Hypatia: Kenapa Perempuan Dalam Sains Masih Harus Kita Rayakan?

2 hours ago 4

Jakarta -

Setiap 11 Februari, dunia memperingati Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains.

Banyak yang menganggapnya sekadar agenda tahunan. Padahal, hari ini adalah pengingat bahwa akses terhadap ilmu pengetahuan dulu bukan hak semua orang-terutama bukan hak perempuan.

Jika kita mundur ke abad ke-4, ada satu nama yang menjadi simbol kerasnya perjuangan itu yakni Hypatia.

Ia bukan sekadar ilmuwan. Ia adalah bukti bahwa kecerdasan perempuan pernah berdiri di pusat peradaban-dan sekaligus menjadi target kebencian.


Perempuan di Jantung Ilmu Pengetahuan Kuno

Hypatia hidup di Alexandria, kota yang pada masanya adalah episentrum pengetahuan dunia Mediterania. Ia mengajar matematika, astronomi, dan filsafat pada masa ketika ruang publik intelektual didominasi laki-laki.

Ia mempelajari dan mengembangkan karya-karya klasik seperti:

  • Elements
  • Conics
  • Almagest

Namun yang membuatnya berbeda bukan hanya ilmunya. Hypatia mengajar secara terbuka. Ia berdiskusi lintas agama. Ia dihormati oleh murid-murid dari latar belakang berbeda.

Dalam dunia yang sedang terbelah oleh konflik teologis dan politik, ia memilih rasionalitas.

Ketika Ilmu Bertabrakan dengan Fanatisme

Hypatia hidup pada masa pergeseran besar kekuasaan religius di Alexandria. Konflik antara otoritas gereja dan pemerintahan sipil memanas. Dalam pusaran itulah ia terseret.

Ia dianggap memiliki pengaruh terhadap Orestes, yang sedang berseteru dengan Cyril of Alexandria. Rumor dan prasangka berkembang. Ilmuwan perempuan itu dijadikan kambing hitam.

Pada tahun 415 M, ia dibunuh secara brutal oleh massa.

Kematian Hypatia bukan hanya tragedi personal. Banyak sejarawan melihatnya sebagai simbol berakhirnya tradisi intelektual klasik di Alexandria.

Kenapa Kisahnya Masih Penting Hari Ini?

Kita hidup di era berbeda. Tidak ada lagi massa yang menyeret ilmuwan ke jalan. Namun, tantangan perempuan di dunia sains belum sepenuhnya hilang.

Statistik global menunjukkan perempuan masih kurang terwakili di posisi peneliti senior, profesor penuh, hingga pemimpin laboratorium. Banyak yang masih menghadapi bias, stereotip, atau hambatan struktural.

Hypatia mengingatkan kita bahwa:

  • Perempuan selalu ada dalam sejarah sains.
  • Hambatan terhadap mereka sering kali bersifat sosial, bukan intelektual.
  • Ilmu pengetahuan berkembang ketika keberagaman dilibatkan.

Merayakan perempuan dalam sains bukan soal romantisasi sejarah. Ini soal memastikan ruang berpikir tetap inklusif.

Dari Tragedi ke Inspirasi

Nama Hypatia kembali populer lewat film Agora. Namun, jauh sebelum layar lebar, ia sudah menjadi simbol bagi para pemikir yang menentang intoleransi.

Hari ini, ketika dunia berbicara tentang inovasi, AI, eksplorasi luar angkasa, dan krisis iklim, kita membutuhkan semua perspektif-tanpa kecuali.

Merayakan perempuan dalam sains berarti memastikan tidak ada lagi potensi yang hilang hanya karena gender.

Hypatia mungkin hidup 1.600 tahun lalu. Tetapi pertanyaan yang ia tinggalkan masih relevan:

Apakah ilmu akan dipandu oleh nalar dan keberagaman, atau oleh prasangka?

Jawaban atas pertanyaan itu ada pada bagaimana kita membuka ruang hari ini.

(ikh/ikh)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |