‘Cukup Saya WNI, Anakku Jangan’ Ungkapan yang Lagi Viral: Jeritan Hati atau Sekadar Tren Sesaat?

11 hours ago 4

Makassartoday.com, Makassar – Belakangan ini, jagat media sosial dihebohkan dengan sebuah kalimat pendek yang cukup menyesakkan dada: “Cukup Saya WNI, Anakku Jangan.” Ungkapan ini bukan sekadar rangkaian kata biasa.

Ia muncul di kolom komentar, video TikTok, hingga utas di X (Twitter) sebagai respons terhadap berbagai isu nasional—mulai dari tingginya biaya pendidikan, sulitnya mencari kerja, hingga karut-marut birokrasi.

Tapi, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa rasa nasionalisme kini bersanding dengan keinginan untuk “menyelamatkan” generasi mendatang dari paspor sendiri?

Akar Keresahan: Bukan Benci Negara, Tapi Lelah pada Sistem

Periklanan

Ad imageAd image

Sentimen ini jarang sekali muncul karena kebencian terhadap tanah air secara fisik. Sebaliknya, ini adalah bentuk protes emosional terhadap realitas ekonomi. Beberapa faktor utama yang memicu narasi ini antara lain:

Standar Hidup vs Pendapatan: Kesenjangan antara gaji minimum dengan harga hunian yang semakin tak terjangkau.
Privilese Pendidikan: Banyak orang tua merasa kualitas pendidikan berkualitas hanya bisa diakses oleh mereka yang berkantong tebal.
Banding-Banding Negara: Di era globalisasi, netizen dengan mudah membandingkan sistem social safety net di negara lain (seperti kesehatan gratis atau tunjangan pengangguran) dengan apa yang mereka rasakan di dalam negeri.

Antara Realita dan Ironi

Menariknya, mereka yang menyuarakan hal ini biasanya adalah kelompok middle-income trap atau kelas menengah yang merasa paling “terjepit”. Mereka bekerja keras, membayar pajak, namun merasa perlindungan negara terhadap masa depan anak-anak mereka belum maksimal.

Namun, di sisi lain, berpindah kewarganegaraan atau menyekolahkan anak ke luar negeri bukanlah perkara mudah. Bagi sebagian besar orang, kalimat ini tetap menjadi sebatas hyperbole—sebuah cara ekstrem untuk mengatakan, “Tolong, perbaiki sistem ini sebelum anak saya dewasa.”

Menilik dari Sisi Psikologi Sosial

Secara psikologis, fenomena ini menunjukkan adanya penurunan optimisme kolektif. Ketika individu merasa aspirasinya tidak terserap oleh sistem, mereka cenderung mencari solusi individuil, salah satunya dengan membayangkan masa depan di tempat lain yang dianggap lebih stabil secara hukum dan ekonomi.

“Nasionalisme itu harus dipupuk dengan rasa aman. Jika rasa aman (finansial dan hukum) hilang, maka loyalitas terhadap identitas kewarganegaraan akan goyah.”

Sebuah Alarm bagi Pembuat Kebijakan

Fenomena “Cukup Saya WNI, Anakku Jangan” seharusnya tidak dianggap angin lalu atau sekadar nyinyiran netizen. Ini adalah alarm keras bagi pemerintah dan pemangku kebijakan. Aspirasi ini adalah pesan bahwa ada generasi yang merasa lelah dan berharap ada perubahan nyata agar anak-cucu mereka kelak bisa bangga memegang paspor hijau tanpa rasa was-was.

Bagaimanapun, Indonesia tetaplah rumah. Namun, rumah yang nyaman adalah rumah yang mampu melindungi dan menjamin masa depan penghuninya.

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |