Fenomena Rop Mai Dao Menjamur di Ho Chi Minh Jelang Imlek

2 hours ago 2

Fenomena Rop Mai Dao Menjamur di Ho Chi Minh Jelang Imlek

Menjelang perayaan Imlek, suasana Ho Chi Minh City perlahan berganti wajah. Kota ini dipenuhi nuansa warna, bunga, dan dekorasi khas Tahun Baru Imlek yang mencuri perhatian baik warga lokal hingga wisatawan. Salah satu yang paling menonjol adalah fenomena rop mai dao, hiasan bunga aprikot dan persik yang tampak "menjamur" di berbagai titik kota. Bukan sekadar pemanis visual, fenomena rop mai dao ini sangat penuh makna karena dipercaya melambangkan harapan, keberuntungan, dan awal baru yang lebih baik.

Fenomena ini pun ramai diperbincangkan karena mencerminkan cara masyarakat Vietnam menyambut Imlek atau Tet dengan penuh antusias. Dari pasar hingga area publik, rop mai dao menjadi bagian dari persiapan menyambut Tahun Baru Imlek, sekaligus memperlihatkan perpaduan antara tradisi lama dan antusiasme modern yang khas Ho Chi Minh.

Sekilas Sejarah Kalender Lunar di Vietnam

Tahun Baru Imlek atau Têt Nguyên Đán merupakan perayaan terpenting bagi masyarakat Vietnam. Momen ini dimaknai sebagai waktu berkumpul bersama keluarga, mengenang leluhur, serta menyambut tahun baru dengan harapan akan kesehatan, kebahagiaan, dan keberuntungan. Bagi masyarakat Vietnam, berakhirnya satu tahun juga diyakini sebagai berakhirnya kesialan yang kemudian digantikan oleh energi positif di tahun yang baru.

Tet sendiri dirayakan antara pertengahan Januari hingga pertengahan Februari berdasarkan kalender lunar. Kalender ini masih menjadi acuan utama untuk menentukan hari-hari besar dan festival tradisional, meski kalender matahari digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Menariknya, kalender lunar pertama kali diperkenalkan pada masa Kaisar Huang Di di Tiongkok sekitar tahun 2637 SM, dan hingga kini tetap dipakai di Vietnam, khususnya untuk perayaan besar seperti Imlek.


Dari Desa Bunga hingga Ruang Publik Kota

Menjelang Tet, Desa Bunga Sa Dec di Provinsi Dong Thap menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan. Kawasan ini berubah menjadi lautan warna dengan aneka bunga yang dirawat khusus untuk menyambut Imlek. Pengunjung yang datang bisa berjalan di antara kebun bunga, menyusuri jalur perahu kayu, sekaligus mengabadikan momen menjelang tahun baru.

Tak hanya di desa bunga, suasana serupa juga terasa di Ho Chi Minh City. Banyak ruang publik dipercantik dengan bunga hias, termasuk penggunaan bunga buatan yang kini semakin populer. Salah satunya terlihat di Turtle Lake, salah satu dari tujuh titik kota yang dipercantik jelang Tet. Jalur nya kemudian dihiasi dengan bunga aprikot dan persik buatan yang dipadukan dengan pot krisan, teratai, dan eceng gondok.

Perlu diketahui dalam tradisi Imlek di Vietnam, bunga aprikot kuning dan bunga persik punya peran penting sebagai simbol keberuntungan, kemakmuran, dan datangnya musim semi. Biasanya, bunga-bunga ini pun dihadirkan dalam bentuk tanaman hidup yang dirawat khusus menjelang Tet.

Namun, seiring skala perayaan yang semakin besar, kebutuhan dekorasi kota juga ikut meningkat. Ruang publik yang harus dihias kini tidak hanya satu atau dua titik, tetapi menyebar di banyak lokasi strategis dan dipajang dalam waktu cukup lama. Dari sini, bunga buatan mulai mendapat tempat dan perlahan menjadi bagian dari perayaan Tet di perkotaan.

Pro dan Kontra Bunga Buatan Jelang Imlek

Penggunaan bunga buatan sebagai dekorasi Imlek di ruang publik pun memunculkan beragam tanggapan. Thanh Hien, salah satu warga Phu Thuan, menilai tampilan baru Turtle Lake terlihat lebih segar dan penuh energi.

"Turtle Lake dalam 'tampilan barunya' terlihat lebih anggun dan hidup, meski nuansa antiknya dulu juga cukup menarik," ujarnya dikutip dari vietnamvn.

Menurutnya perpaduan antara bunga segar dan bunga buatan justru menciptakan suasana yang seimbang dan harmonis. Kehadiran bunga persik, yang identik dengan wilayah Vietnam bagian utara, berdampingan dengan bunga khas selatan dinilai menghadirkan perpaduan budaya yang unik dan saling melengkapi.

Namun, ada juga warga yang lebih menyukai bunga asli dan cenderung menghindari spot foto yang didominasi bunga buatan. Meski begitu, ia memahami alasan di balik penggunaannya, terutama karena keterbatasan anggaran dan kebutuhan dekorasi untuk jangka panjang. Bunga buatan dianggap lebih efisien karena bisa digunakan kembali selama bertahun-tahun.

Pendapat lain datang dari Ngoc Diem, warga Tan Binh, yang merasa perayaan Tet terasa kurang lengkap tanpa kehadiran bunga aprikot dan persik. Ia menilai dekorasi kota yang semakin megah membuat suasana Imlek sudah terasa bahkan sebelum hari perayaannya tiba.

"Selama periode ini, banyak sudut kota yang didekorasi dengan indah dan meriah. Bahkan sebelum Tet datang, nuansa musim semi sudah terasa di mana-mana," kata Diem. Ia juga menambahkan bahwa detail bunga buatan kini semakin realistis, sehingga sekilas sulit dibedakan dari bunga asli, terutama saat difoto dari kejauhan atau melalui kamera.


Adaptasi Tradisi di Tengah Kota Modern

Selain faktor anggaran, durasi pemasangan dekorasi menjadi alasan utama meningkatnya penggunaan bunga buatan. Dekorasi Imlek di Ho Chi Minh City biasanya sudah dipasang jauh sebelum hari perayaan dan tetap terpasang hingga beberapa minggu setelahnya. Bunga segar tentu membutuhkan perawatan ekstra dan berisiko layu sebelum masa pamer berakhir.

Pada akhirnya, fenomena rop mai dao berbahan buatan bukan sekadar tren visual semata. Kehadirannya mencerminkan cara kota besar seperti Ho Chi Minh City merayakan Imlek dengan tetap menjaga makna tradisi, sambil menyesuaikannya dengan kebutuhan zaman. Perpaduan antara nilai budaya dan sentuhan modern inilah yang membuat perayaan Tet terus hidup dan relevan dari tahun ke tahun.

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |