Seluruh Warga di Kota Ini Tinggal Seatap, Klinik hingga Sekolah Cuma Beda Lantai

8 hours ago 15

Jakarta -

Biasanya, kehidupan kota identik dengan rumah berjauhan, kemacetan, dan mobilitas tinggi.

Namun, hal tersebut justru tampak berbeda seperti yang terjadi di Whittier, sebuah kota kecil di Alaska, Amerika Serikat.

Kota ini viral karena hampir seluruh warganya tinggal dalam satu gedung yang sama, lengkap dengan berbagai fasilitas penting seperti sekolah hingga klinik yang hanya dipisahkan oleh lantai.

Konsep hidup ini terdengar seperti fiksi, tapi benar-benar nyata dan sudah berlangsung selama bertahun-tahun.


Di Whittier, sebagian besar penduduk tinggal di sebuah bangunan besar bernama Begich Towers.

Gedung ini bukan sekadar apartemen biasa, melainkan pusat kehidupan kota. Sekitar 85 persen populasi Whittier yang hanya berjumlah ratusan orang menetap di dalam bangunan ini.

Artinya, hampir seluruh aktivitas harian warga terjadi di satu tempat yang sama, mulai dari bangun tidur hingga bekerja dan bersekolah.

Tak hanya hunian, Begich Towers juga dilengkapi berbagai fasilitas penting seperti sekolah, klinik kesehatan, kantor pos, toko kebutuhan sehari-hari, hingga kantor pemerintahan.

Semua fasilitas tersebut berada dalam satu bangunan dan hanya berbeda lantai, sehingga warga tidak perlu keluar gedung untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Konsep hidup satu atap ini bukan tanpa alasan. Whittier dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kondisi cuaca yang cukup ekstrem.

Kota ini sering dilanda angin kencang, suhu dingin, serta curah hujan yang tinggi hampir sepanjang tahun.

Kondisi tersebut membuat aktivitas di luar ruangan menjadi tidak nyaman, bahkan berbahaya dalam situasi tertentu. Oleh karena itu, tinggal di satu gedung besar menjadi solusi paling efisien sekaligus aman bagi warga.

Melalui sistem ini, mereka bisa tetap beraktivitas tanpa harus terpapar cuaca ekstrem di luar.

Selain faktor cuaca, letak geografis Whittier yang terpencil juga berperan besar dalam membentuk pola hidup masyarakatnya. Kota ini hanya bisa diakses melalui terowongan khusus yang bahkan memiliki jadwal buka-tutup tertentu.

Kondisi ini membuat mobilitas keluar-masuk kota menjadi terbatas. Dengan segala keterbatasan tersebut, konsep hidup terpusat dalam satu gedung menjadi pilihan yang masuk akal agar kehidupan tetap berjalan lancar.

Meski terlihat praktis, tinggal dalam satu gedung bersama hampir seluruh warga kota tentu memiliki sisi lain yang perlu dihadapi. Interaksi sosial menjadi sangat intens karena hampir semua orang saling mengenal.

Privasi pun cenderung lebih terbatas dibandingkan tinggal di rumah terpisah. Namun di sisi lain, kedekatan antarwarga justru menjadi nilai tambah karena tercipta komunitas yang kuat dan saling mendukung. Dalam kondisi darurat atau cuaca buruk, kedekatan ini juga mempermudah koordinasi dan bantuan antarwarga.

Meski bagi sebagian orang terdengar tidak biasa, bagi warga Whittier, pola hidup ini justru menjadi solusi paling logis untuk bertahan di tengah kondisi alam yang keras.

(dis/fik)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |