Sutradara Buka Suara Usai Drakor Perfect Crown Tuai Kontroversi

13 hours ago 10

Jakarta -

Episode 11 drama Korea (drakor) Perfect Crown jadi perbincangan hangat di kalangan netizen Korea alias knetz. Bukan pujian, episode menuju akhir drama ini justru menuai kritikan keras karena dinilai melakukan distorsi sejarah.

Adegan yang paling disorot pada episode itu adalah momen penobatan Yi An (Byeon Woo Seok) menjadi raja. Pada upacara itu, sutradara menggunakan dialog cheonse dan bukan manse.

Hal ini menjadi masalah karena cheonse yang berarti 1.000 tahun digunakan oleh kerajaan yang berada di bawah kekuasaan raja lain, yang dalam hal ini adalah Tiongkok. Manse yang berarti 10 ribu tahun digunakan sebagai simbol kerajaan yang merdeka.

Selain ucapan, kostum yang digunakan Yi An saat naik takhta juga menuai kritikan. Penonton menemukan hal yang mengisyaratkan bahwa kerajaan dalam Perfect Crown berada di bawah kekuasaan Tiongkok, bukan kerajaan atau negara yang merdeka.


Pasalnya, Yi An menggunakan mahkota guryumyeonryugwan yang digunakan oleh kerajaan di bawah kedinastian Tiongkok, alih-alih shipimyeonryugwan yang digunakan oleh kerajaan merdeka.

Detail-detail ini kemudian membuat Perfect Crown terseret dalam pusaran kontroversi. Dua pemain utama drama ini, IU dan Byeon Woo Seok bahkan menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada publik.

Selain kedua bintang itu, sutradara Perfect Crown, Park Joon Hwa akhirnya ikut buka suara. Ia memberikan penjelasan soal penggambaran kerajaan fiksi monarki Korea Selatan dalam drama tersebut.

"Menurut saya, yang ingin disampaikan penulis kami adalah, jika masa lalu bangsa kita menyakitkan, termasuk Perang Korea dan periode penjajahan Jepang, tidak terjadi, bukankah kita bisa mencapai gambaran yang lebih bahagia dan indah," kata Park Joon Hwa dalam pernyataannya, dikutip Rabu (20/5).

Berawal dari bayangan tersebut, Park Joon Hwa menyebutkan bahwa tim produksi menggunakan atribut Kerajaan Joseon sesuai dengan konsultasi yang sudah dilakukan.

Meski demikian, ia mengaku bertanggung jawab atas kesalahan yang telah ditampilkan dalam Perfect Crown. Park Joon Hwa pun kembali menegaskan bahwa kesalahan itu tidak dilakukan dengan disengaja, tetapi merupakan hasil imajinasi dan fantasi kelanjutan era Joseon.

Ia menekankan bahwa seharusnya ada beberapa pertimbangan yang dilakukan pada bagian-bagian dalam drama tersebut. Kegagalan hal ini disebut Park Joon Hwa menjadi penyebab bagian kontroversial itu tetap bisa tayang.

"Pada drama fantasi ini, kami telah menghilangkan periode-periode yang menyakitkan, era kolonial, tetapi seharusnya saya mengangkat hal itu dan merefleksikannya dalam cara saya menggambarkan berbagai hal, dan saya tidak melakukannya. Itu adalah kesalahan saya," tutup Park Joon Hwa.

Meski terseret kontroversi dugaan distorsi sejarah, Perfect Crown tetap berhasil menjadi salah satu drakor terpopuler tahun ini. Drama ini diketahui telah menayangkan episode terakhir dan tetap mendapatkan pujian penonton.

(asw/and)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |