Jakarta -
Menyambut momen Idul Fitri, suasana di beberapa sekolah Indonesia pun tak kalah meriah dengan berbagai acara khas Lebaran. Salah satu agenda yang sering diselenggarakan adalah lomba baca puisi bertemakan Idul Fitri.
Puisi dengan tema Lebaran biasanya mengandung harapan serta permintaan maaf yang mendalam. Lewat lomba ini, para siswa akan diajak untuk menuangkan makna kesucian hari raya ke dalam bait-bait yang menyentuh hati. Berikut ini kumpulan 15 puisi Idul Fitri 2026 yang dikutip dari berbagai sumber.
1. Puisi Idul Fitri 1: Terima Kasih
Tak ada kata yang paling indah
Pantas kuucapkan kecuali bersyukur alhamdulillah
Ketika kuterhimpit rasa penat, lelah,dan jenuh
Kau pikirkan segala alternatif yang jitu
Ketika kuterlilit berbagai lubang menganga
Kau datang dengan setumpuk berkahmu
Kau tutupi segala celah pori keperluanku
Hampir tak lagi lubang tersisa
Rata bersinar kembali pada fitrahnya
Riang bergairah menatap hari raya
Tangan kanan ulurkan, kiri menyertai
Sekarang sudah terisi semua topleksiku
Kan menyambut hari yang suci
Bagai emas baru disepuh
Mengilat bersinar dan bercahaya
(Sumber: buku 'Kumpulan Puisi Pintu Hati' karya Susilowati)
2. Puisi Idul Fitri 2: Idul Fitri
Idul Fitri bagiku adalah kemenangan
Setelah sebulan mengabdi pada-Mu ya Robi
Idul Fitri adalah pembersih setelah direndam sebulan
Lamanya Idul Fitri adalah penghapus setelah setahun menulis
Idul Fitri adalah pelebur dosa setelah saling berjabat tangan
Idul Fitri adalah ujian setelah sebulan pembelajaran
Idul Fitri adalah penerimaan setelah pengeluaran zakat
Idul Fitri adalah kelulusan setelah enam hari puasa Syawal
Idul Fitri adalah kenikmatan dan pencerahan hidup
Setelah melewati jembatan cobaan dan impian
Idul Fitri adalah pertemuan terjalin silaturahim
Idul Fitri adalah aneka macam makanan khas
Idul Fitri adalah pecahan dua ribuan yang baru
Idul Fitri adalah pemaaf dan pemohon ampun
Mengharap ridho dari-Mu ya Allah setelah sesama sudah saling merelakan menjadi suci
(Sumber: buku 'Kumpulan Puisi Pintu Hati' karya Susilowati)
3. Puisi Idul Fitri 3: Idul Fitri
Adzan subuh berkumandang
Masih terdengar gema takbir mengagungkan
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,
Laa ilaa haillallahu wallahu akbar
Allahu akbar walillahil hamd
Semua keceriaan ada di mana-mana
Senyum kebahagiaan merata, yang miskin dan kaya
Semua menyambut gembira
Anak-anak berlarian bergegas ke masjid tunaikan sholat Idul Fitri
Dengan baju warna-warni menandakan kemenangan telah dimiliki
Betapa indahnya Idul Fitri
Tangan saling berjabat, mata saling menatap
Bibirpun saling berucap, mohon maaf lahir dan batin
Ya Allah Ya Rabb, di hari Idul Fitri nan suci
Kau berikan kebahagiaan setiap insan
Yang berada di kolong jembatan, di sepanjang jalan, dan seluruh alam
(Sumber: buku 'Kumpulan Puisi Kebesaran-Mu ya Allah' karya Aisyah)
4. Puisi Idul Fitri 4: Keceriaan Idul Fitri
Idul Fitri...
Hari kebahagiaan
Penuh rasa haru, mengharu biru
Aku sangat ceria...
Saat menjalankan Idul Fitri dengan gembira
Karena setiap orang memaafkan
Setiap orang bersalaman
Fitri hatiku...
Suci jiwamu...
Bersih jiwa dan ragaku
Terima kasih Tuhan
Atas anugerah ini
Aku hanya bisa berdoa
Semoga aku dan keluargaku
Bertemu dengan Idul Fitri
Di tahun depan...
(Karya Shafira Tanjila F.R. dalam buku 'Kumpulan Puisi Lukisan Hati')
5. Puisi Idul Fitri 5: Idul Fitri
Lebaran adalah cara lain kita
Menemukan aku dan kamu
Sebagai anak-anak kenangan yang lugu
Kita berjalan ke pasar,
Dengan sedikit rasa bahagia mendadak keluar
Dari dalam hati yang belum utuh; kita membeli
Sepasang baju koko di toko
Yang awet hingga detik ini,
Sebab kita menjaganya
Sebagaimana menjaga perasaan rindu
Yang bermukim di dada masing-masing,
Tidak dipengaruhi perputaran waktu
Dan musim.
(Sumber: buku 'Kumpulan Puisi Jalan Menuju Pulang' oleh Kemas Ferri Rahman)
6. Puisi Idul Fitri 6: Idul Fitri yang Sangat Berbeda
Hari raya sudah di depan mata
Rasanya sudah satu abad saja lamanya
Hati ini menunggu datangnya hari raya
Saat semua insan saling berjabat tangan
Memaafkan dan juga bersuka cita
Sayang seribu sayang
Hari raya kali ini berbeda dengan sebelumnya
Berkumpul bersama
Hanyalah angan-angan semata
Layar kaca di setiap rumahpun
Saling bersautan mengabari larangan mudik ini
Semuanya bertanya-tanya ada apa ini sebenarnya?
Rupanya virus Covid-19 ini
Sergap menyerang kami di kala saling berkumpul
Hingga subuh berganti petang
Entah sampai kapan pandemi ini padam
Kami ingin hari gemilang
Dan pandemi segera meredam
(Karya Devi Wulandari dalam buku 'Antologi Puisi Mengukir dalam Cerita')
7. Puisi Idul Fitri 7: Idul Fitri
Idul Fitri kembali ke fitrah
Menuju ke asal kejadian
Suci dari noda dan dosa
Bagai bayi yang baru lahir
Seperti saat pertama membuka mata
Idul Fitri hari kemenangan
Dirayakan dengan takbir, tahlil, dan tahmid
Memuji Allah dengan rasa suka
Atas keberhasilan melawan nafsu
Hawa nafsu musuh utama
Musuh dalam diri manusia
8. Puisi Idul Fitri 8: Selamat Idul Fitri7
Sahabat, kerabat, saudara, dan handai taulan
Kita telah menjalani puasa satu bulan
Tinggallah kita akan memetik kemenangan
Di hari lebaran ini kami mohon keikhlasan untuk saling memaafkan
Saya tak akan kuasa bila hidup tanpa kesalahan
Namun tentu bukan atas kesengajaan
Kiranya di hari fitri ini engkau berkenan mengulurkan tangan
Untuk kujabat sebagai akad melebur kesalahan
Tuhan
Berkahilah kami semua dengan seribu bulan
Surga bukanlah satu-satunya tujuan
Namun Engkau tentu akan selalu mendengarkan yang kami doakan
Sucikan hati kami hingga ibadah terasa ringan
(Sumber: buku 'Batang Kayu Bolong, Kumpulan Puisi' oleh Wanta)
9. Puisi Idul Fitri 9: Bosan
THR, mudik, macet...!
Baju baru, kue, opor ayam,
Ketupat lebaran
Piknik, halal bil halal, salaman
Inikah hakikat Idul Fitri?
Tasbih-ku, hanya hiasan lisan
Allahu akbar, hanya lantunan
Nada-nada tanpa penghayatan
Hakikat keakbaran-Mu, sepi di kalbuku
Nan gersang dan penuh iri, dengki
Yang akbar di hatiku
Hanya Idul Fitri duniawi
Aku, bosan...Ya Rabbi!
Idul Fitriku hanya seremoni duniawi
(Sumber: buku 'Ramadhan: Puasa dalam Puisi, Itikaf di Mall' oleh Ade Sudaryat dan Witri Haryanti)
10. Puisi Idul Fitri 10: Lebaran
Biscuit
Nastar
Putri salju
Renggingang
Di mana?
Dulu sudah ada di meja
Atau aku lupa denah
Rumahnya sendiri
Ketupat menyantel
Di wadah obat
Halaman rumah tak punya halaman lagi
Tapi kuburan itu wangi
(Sumber: buku 'Antologi Puisi Masih Ada Waktu ketika Senja' oleh Sumiyati dan Khaidar Naufal Pasingsingan)
11. Puisi Idul Fitri 11: Selamat Idul Fitri
Selamat idul fitri, bumi
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak semena-mena
Kami memperkosamu
Selamat idul fitri, langit
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak henti-hentinya
Kami mengelabukanmu
Selamat idul fitri, mentari
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak bosan-bosan
Kami mengaburkanmu
Selamat idul fitri, laut
Maafkanlah kami
Selama ini
Kami mengeruhkanmu
Selamat idul fitri, burung-burung
Maafkanlah kami
Selama ini
Memberangusmu
Selamat idul fitri, tetumbuhan
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak puas-puas
Kami menebasmu
Selamat idul fitri, para pemimpin
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak habis-habis
Kami membiarkanmu
Selamat idul fitri, rakyat
Maafkanlah kami
Selama ini
Tidak sudah-sudah
Kami mempergunakanmu.
(Karya A. Mustofa Bisri/Gus Mus)
12. Puisi Idul Fitri 12: Idul Fitri
Lihat
Pedang taubat ini menebas-nebas hati
dari masa lampau yang lalai dan sia-sia
Telah kulaksanakan puasa Ramadhanku
telah kutegakkan shalat malam
telah kuuntai wirid tiap malam dan siang
telah kuhamparkan sajadahku
yang tak hanya nuju Ka'bah
tapi ikhlas mencapai hati dan darah
Dan di malam Qadar aku pun menunggu
Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya
Maka aku girang-girangkan hatiku
Aku bilang :
Tardji, rindu yang kau wudhukkan setiap malam
Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang
namun si bandel Tardji ini sekali merindu
Takkan pernah melupa
Takkan kulupa janjiNya
Bagi yang merindu insya-Allah kan ada mustajab cinta
Maka walau tak jumpa denganNya
shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini
Semakin mendekatkan aku padaNya
Dan semakin dekat
Semakin terasa kesiasiaan pada usia lama yang lalai berlupa
O lihat Tuhan, kini si bekas pemabuk ini
ngebut
di jalan lurus
Jangan Kau depakkan lagi aku ke trotoir
tempat usia lalaiku menenggak arak di warung dunia
Kini biarkan aku menenggak arak cahayaMu
di ujung sisa usia
O usia lalai yang berkepanjangan
yang menyebabkan aku kini ngebut di jalan lurus
Tuhan jangan Kau depakkan lagi aku di trotoir
tempat dulu aku menenggak arak di warung dunia
Maka pagi ini
kukenakan zirah la ilaha illallah
aku pakai sepatu siratul mustaqiem
akupun lurus menuju lapangan tempat shalat ied
Aku bawa masjid dalam diriku
Kuhamparkan di lapangan
Kutegakkan shalat
dan kurayakan kelahiran kembali
di sana
(Karya Sutardji Calzoum Bachri)
13. Puisi Idul Fitri 13
Idul Fitri
Bergema dalam ketundukan mengagungkan nama-Mu
Semua nafas hanyut dalam menyebut nama-Mu
Semua larut dalam kemenangan yang hakiki
Idul Fitri
Semua bertasbih untuk-Mu
Alam raya memuji keagungan-Mu
Tunduk dan patuh dalam koridor-Mu
Idul Fitri
Menjadi magnet tersendiri
Semua umat Muslim menikmati
Betapa indahnya dalam keberagaman yang begitu nyata
Idul Fitri
Akankah kita berjumpa lagi
Menikmati hari kemenangan yang sangat berarti
Tanpa paksaan dalam hati
Melekat sampai jiwa ini
Terbawa sampai jasad tidak menyatu lagi
(Sumber: buku 'Inspirasi Menulis Puisi di Alam Bebas' karya Karlina)
14. Puisi Idul Fitri 14
Ketika hilal telah terlihat
Langit bersukacita
Burung bernyanyi gembira
Di akhir penantian, lentera menyala
Satu bulan dilalui
Satu bulan yang penuh cobaan
Satu bulan hawa nafsu dibelenggu
Satu bulan yang basahi keringnya hati dengan embun kesabaran
Saat dunia lelap tertidur
Kami bangun sampai menyingsing fajar
Saat panas mulai membakar dahaga
Tak pernah putus dzikir menggema
Bukan, bukan menyiksa diri
Bukan pula terpaksa menjalani
Ini tentang kesabaran hati
Sabar yang menuntun pada seberkas cahaya suci
Hari kemenangan datang di segala tiba
Buah dari kesabaran dan hati yang ikhlas menjalani
dalam jiwa yang sempurna menghamba
(Sumber: buku 'Inspirasi Menulis Puisi di Alam Bebas' karya Karlina)
15. Puisi Idul Fitri 15
Ketika malam menebarkan angin menjelang fajar
Remang cahaya melapisi langit biru terpancar
Embun menyelimuti takbir bersahutan
Merangkai tasbih kenikmatan iman
Setelah Ramadhan bertandang kini akan pergi
Sinar kemenangan pun memagut diri
Kesucian hati menebari
Agar iman kembali fitri nan suci
Aku terhenyak dalam sadar
Terkadang lidah menajam dalam dahaga, bibir pedas kala bertutur
Mata dan telinga terlena dalam simfoni kebatilan
Selalu menyayat hati setiap insan
Idul Fitri telah menghampiri, kemenangan pun mendekap
Marilah saling membuka pintu maaf
Untuk menyucikan dan menuju kefitrahan
Tak layak jika tak ada kata maaf yang keluar dari ucapan
Minal aidin wal faizin
(Sumber: buku 'Inspirasi Menulis Puisi di Alam Bebas' karya Karlina)
(ikh/ikh)
Loading ...

3 hours ago
4
















































