Jakarta -
Nama Ersya Aurelia mendadak jadi sorotan setelah berani membuka pengalaman pahit yang selama ini ia simpan rapat.
Bukan sekadar ikut tren speak up, cerita yang ia bagikan justru mengungkap sisi gelap industri hiburan yang jarang dibicarakan secara jujur.
Kesibukan Ersya sendiri sebenarnya sedang padat. Ia tengah bersiap menjalani proses reading untuk proyek film terbarunya, sambil aktif membuat konten di media sosial.
Namun, di balik rutinitas itu, ada cerita lama yang akhirnya ia berani suarakan.
Keputusan Ersya membahas isu kekerasan seksual berawal dari banyaknya kasus yang muncul ke publik. Rasa tidak nyaman yang ia rasakan ternyata bukan tanpa alasan.
"Aku ke-trigger banget karena terasa familiar. Setelah direfleksikan, ternyata aku sudah cukup sering mengalami kekerasan seksual sejak awal karier," ungkapnya di Tendean, Jakarta Selatan, Rabu (5/5).
Pengalaman itu bahkan terjadi saat usianya masih sangat kecil. Saat baru mulai syuting di usia 9 tahun, ia sudah menghadapi perlakuan tidak pantas dari seorang kru.
"Ada kru yang menyentuh tanpa consent dan memberikan komentar yang tidak pantas," ceritanya.
Memasuki usia dewasa, pengalaman serupa ternyata masih terus terjadi, meski dalam bentuk berbeda.
Ersya mengaku pernah mengalami kekerasan seksual verbal di lokasi syuting, bahkan dilakukan oleh lawan mainnya sendiri.
Situasinya terjadi saat ia tengah bersiap menjalani adegan.
"Aku lagi posisi menyapu, agak menunduk, terus ada yang nyanyiin lagu yang mengarah ke bagian tubuh tertentu," jelasnya.
Menurut Ersya, banyak orang masih belum sadar bahwa hal-hal seperti itu termasuk kekerasan seksual.
Ia menekankan bahwa kekerasan seksual tidak selalu berbentuk fisik, tetapi bisa dimulai dari hal yang sering dianggap sepele.
"Catcalling, bercandaan seksual, komentar yang mengobjektifikasi itu sudah termasuk. Itu seperti piramida yang bisa berkembang ke hal yang lebih serius," ujarnya.
Sebagai korban, perasaan yang ia alami tidak sederhana. Kesedihan menjadi hal yang paling dominan, apalagi ketika laporan yang pernah ia sampaikan justru tidak dianggap serius.
"Aku pernah melaporkan, tapi dianggap sepele. Tidak dapat support yang seharusnya, tapi tetap dituntut profesional," katanya.
Meski begitu, ia memilih untuk tidak diam. Tujuan utamanya sederhana tetapi penting, agar semakin banyak orang sadar dan tidak lagi menganggap kekerasan seksual sebagai hal biasa.
Respons publik pun di luar ekspektasi. Banyak yang memberikan dukungan, bahkan tidak sedikit yang akhirnya ikut berbagi pengalaman serupa.
"Banyak yang bilang terima kasih karena jadi sadar kalau hal kecil pun termasuk kekerasan seksual," ungkapnya.
Cerita-cerita yang masuk kepadanya pun memperlihatkan pola yang sama, korban sering kali diperlakukan sebagai objek dan bukan manusia, hingga akhirnya mengalami trauma dan ketakutan untuk kembali bekerja.
Ersya juga menyoroti perubahan yang mulai terasa di industri hiburan. Jika dulu perilaku tidak pantas kerap dinormalisasi, kini perlahan mulai ada kesadaran untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman.
Keberaniannya juga bukan tanpa aksi. Ia pernah menegur langsung pelaku di lokasi syuting.
"Aku pernah marah sampai banting barang. Dia akhirnya sadar dan minta maaf," katanya.
Meski memiliki pengalaman buruk, Ersya menegaskan bahwa ia tidak kapok untuk terus berkarya. Dunia akting tetap menjadi passion yang ingin ia jalani.
Dukungan dari orang-orang terdekat menjadi faktor penting yang membantunya bertahan.
Ia mengaku belum pernah menjalani bantuan profesional, tetapi kehadiran keluarga, terutama sang ibu, menjadi sumber kekuatan utama.
Cerita Ersya bukan hanya soal pengalaman pribadi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa batasan diri harus dihormati.
Hal yang sering dianggap bercanda bisa jadi menyimpan luka yang tidak terlihat, dan keberanian untuk bersuara bisa menjadi awal perubahan.
(ikh/ikh)
Loading ...

1 hour ago
1
















































