Jakarta -
Beberapa kebiasaan yang dinilai mengganggu sering kali dianggap sebagai tanda penurunan kognitif. Namun, ada dua perilaku yang ternyata menunjukkan bahwa seseorang memiliki kecerdasan di atas rata-rata.
Sebuah studi psikologi mengungkap bahwa kebiasaan ini dapat mencerminkan kecerdasan kognitif seseorang, apabila terjadi pada kondisi yang tepat. Kecerdasan kognitif tersebut termasuk pemecahan masalah dan kemampuan adaptasi otak untuk beralih antar mode berpikir.
Artinya, kebiasaan yang kelihatannya tidak produktif tersebut mungkin adalah sebuah pertanda bahwa otak sedang aktif dan melakukan pekerjaan penting, alih-alih mengalami gangguan psikologis.
Melansir dari Psychology Today, berikut ini beberapa kebiasaan menyebalkan yang sebenarnya menunjukkan kecerdasan.
Melamun
Melamun atau mengalihkan pikiran ke sesuatu yang sedang dikerjakan ke dalam pikiran yang dihasilkan sendiri, sudah lama dianggap sebagai tanda ketidakfokusan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut justru mendorong otak untuk menjalankan pemikiran kreatif dan fleksibilitas kognitif.
Pada tahun 2025 lalu, studi berjudul Unraveling the creative mind: The role of deliberate and spontaneous mind wandering in creativity yang melibatkan lebih dari 1.300 partisipan orang dewasa menemukan bahwa melamun secara sengaja dapat meningkatkan daya kreativitas otak.
Mengacu pada data neuroimaging, kebiasaan ini didukung oleh kerja sama antara jaringan otak yang menjalankan fungsi eksekutif (lobus frontal) dan jaringan mode default, yakni sistem yang berkaitan dengan imajinasi yang dihasilkan oleh otak kita sendiri.
Orang yang suka melamun secara spontan juga menunjukkan kinerja yang lebih baik saat terjadi peralihan pemikiran. Artinya, fungsi kognitif mereka dapat beradaptasi dengan cepat meski harus bergonta-ganti tugas dalam waktu yang singkat.
Hal lain yang berkaitan erat dengan kebiasaan melamun adalah kapasitas individu untuk berpikir spontan. Pada tahun 2024, sebuah studi yang terbit di PNAS Nexus meneliti sampel pemikiran spontan pada lebih dari 3.300 peserta menggunakan metode pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing).
Hasilnya, pikiran yang tidak terencana cenderung terorganisir dan mendukung proses konsolidasi memori. Dengan kata lain, pemikiran yang lowong sering kali menunjang fungsi kognitif yang adaptif, alih-alih sekadar pikiran yang mengganggu.
Meski punya sisi positif, melamun bukanlah cara efektif untuk meningkatkan kinerja otak. Manfaat dari kebiasaan ini hanya bisa dirasakan jika diimbangi dengan kemampuan untuk mengontrol fokus supaya tidak keterusan.
Berbicara Sendiri
Berbicara pada diri sendiri, baik dalam hati maupun dengan suara pelan, sering kali dipandang aneh. Namun, penelitian psikologi terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan ini sebenarnya dapat mendukung proses metakognitif, yaitu kemampuan untuk mengatur dan mengevaluasi cara berpikir pada diri sendiri.
Merujuk pada studi yang terbit di jurnal Behavioral Sciences pada tahun 2023, terdapat korelasi antara ucapan batin, regulasi diri, dan kejelasan konsep diri. Artinya, individu yang sering ngomong sendiri akan lebih paham terhadap identitas diri sekaligus memiliki regulasi diri yang lebih baik.
Namun, bukan berarti bahwa berbicara sendiri langsung menandakan kecerdasan yang lebih tinggi. Penelitian tersebut hanya menekankan bahwa ucapan batin dapat berfungsi sebagai cara untuk mengatur ide-ide yang kompleks.
Artinya, mengeksternalisasi pikiran secara internal berpotensi mengurangi pemikiran yang kusut di dalam otak. Dampaknya, otak dapat memberi gambaran yang terstruktur pada ide-ide abstrak. Jadi, jika kamu secara tidak sadar bergumam saat berpikir, bisa jadi itu adalah cara otak untuk menyusun pikiran kacau menjadi sesuatu yang terencana.
Namun, sama halnya seperti melamun, berbicara sendiri juga hanya efektif jika dilakukan secukupnya. Apabila dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini justru dapat merusak fokus dan kesehatan mental.
(dis/dis)
Loading ...

6 hours ago
6
















































