Apa Itu Soft Living? Tren Hidup Santai Gen Z di Tengah Ritme yang Serba Cepat

11 hours ago 4

Apa Itu Soft Living? Tren Hidup Santai Gen Z di Tengah Ritme yang Serba Cepat

Gaya hidup saat ini semakin terburu-buru dan serba cepat, tapi perlu diketahui bahwa sejatinya, tak semua hal harus dilakukan dengan cara terburu-buru. Kebiasaan serba cepat alias hustle culture pun membuat banyak orang tertekan.

Oleh karena itu, muncul gaya hidup baru yang mengedepankan kapasitas mental individu, yakni soft living. Tren gaya hidup ini pun belakangan menjadi obrolan hangat di kalangan Gen Z, tetapi apa sebenarnya soft living itu? Berikut merupakan ulasannya.

Soft Living: Gaya Hidup Santai Anti-Ruwet

Gaya hidup soft living sejatinya mengajak Anda untuk hidup lebih santai tanpa terburu-buru. Tren satu ini mendorong kehidupan sehari-hari yang tenang, santai, dan anti-ruwet. Kunci gaya hidup ini adalah pada ketenangan batin, berjalan lebih santai, dan memahami batasan.

Meski demikian, soft living tak berarti Anda terhindar dari stres. Tekanan hidup akan tetap ada, tetapi ditanggapi dengan respons stres yang lebih baik.


Soft living pada intinya berfokus pada hal-hal yang sering dilupakan di tengah kehidupan serba cepat, yakni kesadaran diri dan keseimbangan dengan memahami batasan.

Buzz Feed mengungkapkan bahwa fenomena ini muncul sebagai bentuk reaksi dari para pekerja muda, terutama Gen Z yang mengalami burnout akibat ritme hidup terlalu cepat hingga cenderung ambisius terhadap pencapaian tertentu.

Data dari Gallup 2024 menunjukkan bahwa sebanyak 48 persen karyawan global mengalami burnout di tempat kerja, sedangkan data lain menyebutkan sebanyak 76 persen mengalami kelelahan kerja setidaknya sekali.

Burnout merupakan titik terberat stres yang muncul akibat konsep hustle culture yang mengharuskan seseorang untuk terus bekerja keras demi mengejar berbagai pencapaian. Gaya hidup soft living kemudian bisa meringankan hal ini.

Soft living mendorong Anda untuk tidak terus-menerus mengejar pencapaian hidup, serta tak perlu merasa bersalah jika target tak berhasil tercapai. Lebih dari itu, Anda perlu menerima dan menikmati segala proses dalam hidup.

Gaya hidup ini kemudian bukan hanya soal gaji besar dan prestasi, tetapi soal hidup anti-ruwet yang bisa mengurangi tekanan dari rasa stres.

Berbeda dengan Slow Living

Meski sekilas terlihat sama, ada perbedaan antara soft living dengan slow living. Slow living mendukung seluruh aspek kehidupan dan mengajak Anda untuk bergerak ‘lebih lambat’ serta mindful dengan cara mengubah gaya hidup secara drastis.

Salah satu contoh nyata yang sering terlihat adalah cerita soal seseorang yang memilih untuk berhenti kerja di kota dan pindah ke pedesaan untuk hidup yang lebih tenang. Hidup di pedesaan bagi mereka terasa lebih lambat dan penuh ketenangan.

Sementara soft living masih memungkinkan Anda untuk tetap menjalani hari seperti biasa tanpa mengubah gaya hidup dengan drastis. Namun yang berbeda, Anda lebih mengetahui batasan dan tidak memaksakan diri.

Hal ini bukan berarti Anda menjadi malas atau tidak bekerja keras. Anda tetap bekerja untuk mencapai target tertentu, tetapi mengetahui batasan dan tidak menyalahkan diri sendiri saat target tidak tercapai.

Berjuang untuk sebuah target bukan satu-satunya cara untuk mencapai kebahagiaan dalam hidup. Berikan kelonggaran pada beberapa aspek agar manajemen stres Anda bisa dilakukan dengan baik dan lebih sederhana.

Soft living kemudian menjadi gaya hidup yang mengajak Anda untuk menjalani kegiatan sehari-hari secara lebih seimbang dan tenang, memberikan ruang untuk lebih mengenali diri sendiri dan menentukan batasan sesuai keinginan.

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |