Jakarta -
Tidak semua lingkungan kerja yang buruk terlihat jelas. Ada kalanya budaya kerja yang tidak sehat justru dianggap sebagai hal biasa karena sudah berlangsung lama atau dilakukan oleh banyak orang.
Padahal, jika terus dibiarkan, kondisi tersebut dapat mempengaruhi kesehatan mental, produktivitas, hingga membuat karyawan memilih resign.
Menurut World Health Organization (WHO), lingkungan kerja yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko stres berkepanjangan, burnout, hingga gangguan kesehatan mental.
Sementara Harvard Business Review menyebut budaya kerja yang toxic juga berdampak pada rendahnya keterlibatan karyawan dan tingginya angka turnover.
Lalu, apa saja tanda atau red flag kantor toxic yang sering dianggap normal?
1. Lembur Dianggap Bukti Loyalitas
Sesekali lembur untuk menyelesaikan pekerjaan memang wajar. Namun, jika karyawan terus-menerus diharapkan bekerja melebihi jam kerja tanpa alasan yang jelas atau tanpa kompensasi yang sesuai, kondisi tersebut patut diwaspadai.
Budaya yang menganggap pulang tepat waktu sebagai tanda kurang berdedikasi justru dapat meningkatkan risiko kelelahan dan burnout.
2. Bos Sering Memarahi Karyawan di Depan Umum
Memberikan evaluasi merupakan bagian dari pekerjaan seorang atasan. Namun, mempermalukan karyawan di depan rekan kerja bukanlah bentuk kepemimpinan yang sehat.
Psikolog menyebut kritik yang disampaikan secara tidak menghargai dapat menurunkan rasa percaya diri, memicu kecemasan, dan membuat karyawan enggan menyampaikan pendapat.
3. Gosip Menjadi Bagian dari Budaya Kantor
Setiap tempat kerja mungkin memiliki obrolan informal. Namun, jika gosip digunakan untuk menjatuhkan rekan kerja, menyebarkan rumor, atau mempengaruhi penilaian terhadap seseorang, hal itu dapat merusak kepercayaan dalam tim.
Forbes menilai budaya bergosip yang berlebihan dapat memperburuk kolaborasi dan menciptakan lingkungan kerja yang tidak aman secara psikologis.
4. Hasil Kerja Orang Lain Diambil sebagai Prestasi Pribadi
Salah satu tanda lingkungan kerja yang tidak sehat adalah ketika ada karyawan atau bahkan atasan yang mengklaim hasil kerja tim sebagai pencapaian pribadi.
Jika perilaku ini terus dibiarkan, karyawan akan kehilangan motivasi karena merasa usahanya tidak dihargai.
5. Karyawan Takut Menyampaikan Pendapat
Dalam lingkungan kerja yang sehat, setiap anggota tim memiliki ruang untuk menyampaikan ide atau kritik secara profesional.
Sebaliknya, jika karyawan memilih diam karena takut dimarahi, dipermalukan, atau dianggap tidak loyal, kondisi tersebut menunjukkan rendahnya psychological safety.
Menurut Harvard Business Review, rasa aman untuk berbicara merupakan salah satu faktor penting dalam membangun tim yang berkinerja tinggi.
6. Aturan Tidak Berlaku Sama untuk Semua Orang
Perlakuan yang berbeda terhadap karyawan dengan posisi atau kedekatan tertentu dapat menimbulkan rasa tidak adil. Misalnya, ada karyawan yang bebas melanggar aturan, sementara yang lain mendapat sanksi untuk pelanggaran serupa.
Favoritisme seperti ini sering menjadi pemicu konflik dan menurunkan kepercayaan terhadap manajemen.
7. Stres dan Burnout Dianggap Hal Biasa
Kalimat seperti "Semua orang juga capek" atau "Kalau tidak kuat, ya resign saja" sering dianggap lumrah di sebagian tempat kerja. Padahal, mengabaikan stres berkepanjangan dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental.
WHO telah mengakui burnout sebagai sindrom yang berkaitan dengan stres kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola.
Hal itu membuat perusahaan perlu menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan karyawan, bukan menganggap kelelahan sebagai bagian dari budaya kerja.
(dis/fik)
Loading ...

11 hours ago
2
















































