Jakarta -
Kebiasaan untuk tidak menyampaikan sesuatu secara langsung alias menyindir cukup umum dilakukan banyak orang. Melempar kode untuk berkomunikasi, orang lain kemudian harus menebak maksud hingga siapa yang sedang dibicarakan.
Menyindir dengan gaya bicara sarkas kemudian jadi cara paling mudah untuk meluapkan isi hati tanpa perlu merasa bersalah dengan orang sekitar, atau bahkan agar orang yang sedang dibicarakan tidak mengetahui.
Pada umumnya, menyindir dilakukan dengan gaya bicara yang berputar-putar dan tidak jelas. Mereka yang melakukannya sering menganggap car aini paling aman untuk meluapkan isi hati karena tidak berani menyampaikannya secara langsung.
Kebiasaan menyindir kemudian bukan sekadar mengungkapkan rasa kesal sesaat, tetapi juga bisa mencerminkan kepribadian tertentu. Berikut merupakan lima ciri kepribadian orang yang suka menyindir.
1. Pasif-Agresif
Menurut Psychmechanics, sarkasme bisa menjadi bentuk agresi terselubung. Kritik atau rasa tidak suka yang disampaikan secara tidak langsung memang terdengar ringan, tetapi tetap menyimpan pesan yang tajam.
Hal ini membuat mereka yang suka menyindir punya sikap seolkah pasif, tetapi tetap agresif dengan pesan yang ingin disampaikan. Gaya humor yang agresif termasuk sarkasme kemudian lebih sering muncul pada orang yang punya kecenderungan manipulatif.
2. Kurang Empati
Orang yang suka menyindir juga punya kepribadian yang cenderung minim empati. Mereka kurang peduli dengan perasaan orang lain, terkadang menganggap sindiran sebagai bercandaan biasa. Hal ini juga menjadi tanda bahwa mereka memiliki kecerdasan emosional yang rendah.
3. Takut Berkonflik
Meski mengurangi konflik bisa mempertahankan hubungan, terlalu takut untuk menghadapi konflik justru punya akibat yang buruk. Kekhawatiran untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya cenderung disampaikan dalam bentuk sindiran yang justru berpotensi membuat hubungan rusak.
4. Rendah Diri
Menurut Verywellmind, mereka yang suka menyindir memiliki rasa percaya diri yang cenderung rendah karena ragu atau sulit menyampaikan apa yang ingin dikatakan. Pada akhirnya, mereka tidak bisa melakukan komunikasi secara langsung dan sering menyindir orang lain.
5. Defensif
Mereka yang punya perilaku defensif sering menggunakan sindiran sebagai senjata untuk menyerang atau membalas orang lain. Hal ini juga dilakukan sebagai bentuk pertahanan diri mereka dari orang lain.
Pada beberapa situasi, menyampaikan sindiran memang bisa mencairkan suasana. Meski demikian, sindiran yang berlebihan tanpa empati justru bisa merusak hubungan, terutama karena tak semua orang bisa memahami sindiran.
Oleh karena itu, memerhatikan situasi ketika akan menyampaikan sindiran perlu dilakukan untuk menghindari potensi salah paham yang bisa membuat hubungan sosial memburuk.
(asw)
Loading ...

8 hours ago
3
















































