Rizki Syarif Eks Gitaris Alexa Kini Jadi Ilmuwan di Pusat Riset Fisika Terkemuka Dunia

5 hours ago 4

Jakarta -

Nama Rizki Syarif pernah begitu akrab di telinga pencinta musik Indonesia pada era 2000-an.

Sebagai gitaris grup band Alexa, sosoknya ikut mengiringi kesuksesan sejumlah lagu yang sempat merajai tangga lagu dan menjadi soundtrack masa muda banyak orang.

Namun siapa sangka, setelah menghilang dari sorotan industri musik selama lebih dari satu dekade, Rizki ternyata memilih jalan hidup yang sangat berbeda.

Bukan lagi berdiri di atas panggung konser, ia kini berkarier di dunia sains dan menjadi bagian dari salah satu pusat penelitian paling prestisius di dunia.


Rizki Syarif merupakan personel awal Alexa yang debut pada 2007 bersama Aqi, Satrio, Fajar, dan JMono. Selama beberapa tahun, ia dikenal sebagai gitaris yang ikut membangun identitas musik band tersebut.

Namanya semakin dikenal setelah Alexa meraih popularitas lewat sejumlah lagu hits, termasuk Jangan Kau Lepas yang hingga kini masih sering diputar para penggemarnya.

Namun pada 2011, Rizki memutuskan meninggalkan grup yang telah membesarkan namanya. Lagu Selagi Ku Mampu dari album Edisi II menjadi penanda perpisahannya dengan Alexa.

Keputusan tersebut ternyata bukan karena konflik ataupun keinginan berpindah ke grup musik lain. Rizki memilih meninggalkan dunia hiburan demi mengejar pendidikan yang selama ini menjadi passion terbesar dalam hidupnya.

Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan membuatnya mengambil langkah berani untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Ia kemudian menempuh pendidikan magister Fisika di University of Sydney, Australia.

Perjalanan akademiknya tidak berhenti sampai di sana. Setelah menyelesaikan pendidikan S-2, Rizki kembali melanjutkan studi doktoral atau S3 di Brown University, Rhode Island, Amerika Serikat.

Dedikasi dan kerja kerasnya dalam dunia akademik akhirnya membawanya ke salah satu institusi penelitian paling bergengsi di dunia, yakni CERN atau Centre Européen pour la Recherche Nucléaire yang berlokasi di Jenewa, Swiss.

CERN dikenal sebagai organisasi penelitian nuklir terbesar di dunia sekaligus rumah bagi Large Hadron Collider (LHC), akselerator partikel terbesar dan paling canggih yang pernah dibuat manusia.

Fasilitas tersebut digunakan untuk meneliti berbagai misteri fundamental alam semesta, termasuk partikel-partikel penyusun materi.

Di tengah kesibukannya sebagai peneliti, Rizki pernah mengungkapkan alasan sederhana yang membuatnya terus bertahan menempuh jalur akademik hingga jenjang tertinggi.

"Karena saya sungguh suka belajar. Jadi, belajar, ngajar, dan dibayar itu sudah jadi motivasi yang cukup buat saya," ujar Rizki Syarif dalam kanal YouTube Indonesia Mengglobal.

Meski telah berhasil mencapai salah satu pencapaian akademik tertinggi, Rizki mengaku masih memiliki tujuan yang lebih besar.

Ia berharap penelitian yang dikerjakannya ke depan bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

"Tujuan ke depan, habis PhD ini, masih terbuka sebenarnya. Cuma ingin melakukan riset yang lebih aplikatif, karena kemarin sudah riset yang murni, mungkin ke depan saya ingin lakukan hal yang lebih lagi," ucapnya.

Transformasi Rizki Syarif menjadi bukti bahwa kesuksesan bisa hadir dalam berbagai bentuk.

Dari seorang musisi yang menghibur jutaan pendengar lewat lagu-lagu Alexa, kini ia berkontribusi dalam dunia ilmu pengetahuan melalui penelitian di salah satu pusat riset paling bergengsi di dunia.

Perubahan penampilannya pun turut mencuri perhatian. Jika dahulu ia identik dengan rambut gondrong khas musisi rock era 2000-an, kini Rizki tampil lebih sederhana dengan rambut pendek serta kumis dan jenggot tipis.

Kisah Rizki Syarif menjadi contoh bahwa mimpi tidak selalu harus berhenti pada satu bidang.

Ketika banyak orang mengenalnya sebagai gitaris Alexa, ia justru membuktikan bahwa dirinya mampu menorehkan prestasi lain di dunia yang sama sekali berbeda, yakni sains dan penelitian tingkat dunia.

(ikh/and)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |