Jakarta -
Kisah tragis menimpa Kristina Joksimovic, seorang model sekaligus mantan ratu kecantikan asal Swiss, yang tewas secara mengenaskan di tangan suaminya sendiri.
Kasus ini bukan hanya mengejutkan, tetapi juga disebut sebagai salah satu pembunuhan paling keji dalam beberapa tahun terakhir.
Peristiwa mengerikan itu bermula dari konflik rumah tangga. Sang suami, Marc Rieben, diduga menghabisi nyawa Kristina setelah pertengkaran hebat terkait rencana perceraian, hak asuh anak, hingga masalah keuangan.
Dalam pertengkaran tersebut, pelaku Marc dilaporkan mencekik korban hingga tewas. Namun tragedi tidak berhenti di situ. Setelah memastikan istrinya meninggal, pelaku justru melakukan tindakan yang jauh lebih mengerikan dengan memutilasi tubuhnya.
Dilansir dari Daily Mail, menurut laporan penyelidikan, tubuh Kristina dipotong menggunakan berbagai alat seperti pisau dan gunting kebun. Bahkan, beberapa bagian tubuhnya dihancurkan menggunakan blender industri sebelum dilarutkan dalam cairan kimia.
Dokumen pengadilan mengungkap bahwa pelaku sempat menonton video di YouTube saat melakukan aksi tersebut.
Ahli forensik menyebut tindakan itu bukan sekadar upaya menghilangkan jejak, melainkan mutilasi yang disengaja dan menunjukkan tingkat kekejaman tinggi.
Adapun kasus ini akhirnya terungkap setelah ayah korban merasa curiga karena Kristina tak kunjung bisa dihubungi. Saat datang ke rumah, ia menemukan kantong plastik hitam di ruang cuci.
Ketika dibuka, pemandangan mengerikan langsung terlihat.
"Saat ayah Kristina membuka kantong plastik itu, ia menemukan kepala korban yang sudah terpisah," kata sumber yang mewakili keluarga.
Penemuan itu menjadi titik awal pengungkapan kasus yang selama ini ditutupi pelaku.
Diketahui, Kristina dikenal sebagai sosok inspiratif. Ia pernah menyabet gelar Miss Northwest Switzerland dan menjadi finalis Miss Switzerland 2007.
Kristina juga aktif sebagai pelatih catwalk dan mentor bagi para model muda, termasuk mereka yang berlaga di ajang internasional. Kehidupannya di media sosial tampak bahagia, jauh dari bayangan konflik yang berujung maut.
Meski telah didakwa, Marc sempat berdalih bahwa tindakannya merupakan bentuk pembelaan diri. Namun klaim tersebut tidak didukung bukti forensik. Penyelidikan justru menunjukkan bahwa korban meninggal akibat pencekikan, bukan serangan balik.
Kasus ini kini masih bergulir di pengadilan dan terus menyita perhatian publik.
(dis/dis)
Loading ...

3 hours ago
1
















































