Jakarta -
Perubahan zaman membawa tantangan baru dalam dunia parenting, dan Nikita Willy melihat langsung dampaknya pada anak-anak masa kini.
Sebagai ibu dua anak, ia kerap menemukan fenomena yang makin sering terjadi, mulai dari anak tantrum hingga rasa tidak percaya diri akibat paparan media sosial.
Dalam sebuah acara di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Nikita membagikan keresahan yang banyak disampaikan para orang tua kepadanya. Masalahnya bukan sekadar gadget, tetapi efek yang ditimbulkan setelahnya.
"Ada orang tuan merasa anaknya tuh kalau diambil gadget-nya jadi tantrum. Ada juga yang merasa anaknya tuh jadi sangat insecure dengan dirinya karena kerap membandingkan dirinya dengan apa yang dilihat di media sosial," ungkap Nikita.
Situasi ini sering membuat orang tua merasa bersalah, terutama bagi mereka yang bekerja dan tidak selalu bisa mendampingi anak sepanjang waktu. Namun, menurut Nikita, kehadiran fisik bukan satu-satunya kunci dalam membangun hubungan yang sehat dengan anak.
"Ternyata kita bisa bangun koneksi itu walaupun tidak selalu dekat dengan anak. Gimana caranya kita harus bisa buat anak kita tuh merasa dipahami, merasa didengar, dan merasa diterima," jelasnya.
Ia menekankan bahwa koneksi emosional yang kuat justru menjadi fondasi penting agar anak memiliki "pegangan" saat menghadapi dunia digital yang penuh tekanan.
"Karena ketika koneksi itu sudah terbangun antara orang tua dan anak, orang tua tuh akan jadi tempat pertama bagi anak untuk ngobrol, untuk curhat, untuk cari tahu hal-hal baru yang mungkin dia lihat di luar sana," tambah Nikita.
Namun, Nikita juga memberikan pengingat yang cukup menohok. Ia menilai banyak orang tua terjebak dalam kontradiksi, melarang anak bermain gadget tetapi tidak memberi contoh yang sama.
"Bagaimana kita bisa kasih tahu anak kita bahwa screen time itu tidak baik, tapi kita sendiri selalu adiktif sama screen time. Kita bilang di meja makan nggak boleh ada gadget, tapi kita sendiri suka main handphone kalau lagi di meja makan," tegasnya.
Menurutnya, perubahan harus dimulai dari orang tua terlebih dahulu. Anak-anak adalah peniru yang ulung, sehingga apa yang mereka lihat setiap hari akan lebih berpengaruh dibanding sekadar nasihat.
"Jadi perubahan yang utama sih harus dimulai dari kita dulu, agar bisa memberi contoh ke anak-anak kita," tutupnya.
Pandangan ini menjadi pengingat sederhana tapi kuat. Di tengah derasnya arus digital, peran orang tua bukan hanya membatasi, tetapi juga memberi arah lewat contoh nyata yang konsisten setiap hari.
(ikh/ikh)
Loading ...

7 hours ago
7
















































