Jakarta -
Bagi banyak orang, putus cinta sering dianggap sebagai akhir yang menyakitkan. Namun, Jennifer Lopez memiliki pandangan yang berbeda.
Penyanyi dan aktris Hollywood tersebut justru meyakini bahwa berakhirnya sebuah hubungan bukanlah kegagalan, melainkan kesempatan untuk memulai babak baru dan menjadi pribadi yang lebih baik.
Jennifer Lopez yang resmi bercerai dari Ben Affleck pada 2025 mengaku kini memandang perjalanan cintanya dengan cara yang jauh lebih dewasa.
Setelah beberapa kali mengalami patah hati dan perceraian, ia merasa setiap perpisahan selalu membawa pelajaran berharga dalam hidupnya.
"Putus cinta bukanlah sebuah kegagalan. Sejujurnya, aku merasa itu adalah batu loncatan menuju versi terbaik dirimu berikutnya," ujar Jennifer dalam acara bincang-bincang Subway Takes.
Perempuan berusia 56 tahun itu bahkan menilai perpisahan seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang memalukan.
Menurutnya, seseorang justru pantas merayakan keberanian untuk mengakhiri hubungan yang sudah tidak lagi sehat.
"Kita seharusnya mengadakan pesta saat putus cinta. Orang-orang seharusnya berkata, 'Kamu putus? Selamat!' Karena, pertama, kamu sudah mengambil sebuah keputusan. Kedua, kemungkinan besar itu adalah keputusan terbaik untuk semua pihak," lanjutnya.
Jennifer sendiri telah empat kali menikah, yakni dengan Ojani Noa, Cris Judd, Marc Anthony, dan Ben Affleck.
Meski seluruh pernikahannya berakhir dengan perceraian, pengalaman tersebut tidak membuatnya memandang cinta secara pesimistis.
Menurut pelantun lagu On The Floor itu, orang yang berkali-kali menyakiti hati pasangannya bukanlah pihak yang benar-benar menang dalam sebuah hubungan.
"Kalau sepanjang hidupmu kamu terus mematahkan hati orang lain, justru kamulah yang kalah," ucapnya.
Jennifer mengungkapkan bahwa berbagai pengalaman patah hati justru menjadi titik balik yang membentuk dirinya, bukan hanya dalam urusan asmara, tetapi juga dalam perjalanan karier dan kehidupan pribadi.
"Menurutku, pertumbuhan terbesar dalam hidupku secara emosional, mental, maupun psikologis selalu datang setelah patah hati. Dan itu bukan hanya soal hubungan romantis, tetapi juga kekecewaan dalam pekerjaan atau hal lainnya," tuturnya.
Baginya, rasa sakit setelah sebuah hubungan berakhir mendorong seseorang untuk melakukan evaluasi diri secara jujur.
Dari proses itulah, seseorang dapat memahami kesalahan, belajar menerima keadaan, dan berkembang menjadi pribadi yang lebih matang.
"Itulah satu-satunya momen ketika kamu benar-benar menggali diri sendiri. Kamu akan bertanya, 'Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana aku harus melewati ini? Mengapa aku terus mengulanginya? Atau mengapa itu tidak terjadi? Apa yang bisa kulakukan dengan lebih baik?' Pada akhirnya, kamu pun berubah menjadi pribadi yang lebih baik," tutup Jennifer.
(ikh/and)
Loading ...

5 hours ago
1
















































