Jakarta -
Kecintaan Dua Lipa terhadap dunia literasi kini diwujudkan dalam sebuah proyek yang menarik perhatian publik.
Penyanyi asal Inggris itu resmi membuka Perpustakaan Manifesto, sebuah ruang baca yang menghadirkan 100 buku pilihan yang pernah dilarang atau disensor di berbagai negara.
Perpustakaan tersebut berdiri di sebuah gedung bersejarah di Kota Porto, Portugal. Seluruh koleksi dikurasi langsung oleh Dua Lipa bersama klub buku miliknya, Service95.
Menurut Dua Lipa, Manifesto bukan sekadar perpustakaan, melainkan ruang untuk menghormati karya-karya para penulis yang berani menentang kekuasaan, sensor, dan berbagai bentuk pembungkaman.
"Bagi para pembaca yang menolak untuk diberi tahu buku apa yang boleh mereka baca, kamu diundang untuk berkunjung dan memutuskan sendiri apa yang pantas berada di rak-rak ini," ujar Dua Lipa, dikutip dari situs Service95.
Penyanyi berusia 30 tahun itu juga menegaskan bahwa membaca dapat menjadi bentuk kebebasan berpikir yang sangat kuat.
"Karena terkadang hal yang paling subversif yang dapat dilakukan adalah membaca buku, kemudian membicarakannya," lanjutnya.
Sebanyak 100 buku dalam Perpustakaan Manifesto dibagi ke dalam empat tema utama, yaitu Power (Kekuasaan), Control (Kendali), Voice (Suara), dan Memory (Ingatan).
Kategori Power menghadirkan buku-buku yang mengulas tentang kekuasaan, siapa yang memegang pengaruh, siapa yang melawannya, serta bagaimana sebuah narasi dibentuk.
Beberapa judul yang masuk dalam kategori ini antara lain The Second Sex karya Simone de Beauvoir, Felon karya Reginald Dwayne Betts, Free karya Lea Ypi, One Day karya Omar El Akkad, Everyone Will Have Always Been Against This, serta Nineteen Eighty-Four karya George Orwell.
Pada kategori Control, pengunjung dapat menemukan karya-karya yang membahas propaganda, ideologi, hingga berbagai bentuk kontrol terhadap kebebasan berpikir.
Koleksinya mencakup The Handmaid's Tale karya Margaret Atwood, The Trial karya Franz Kafka, The Memory Police karya Yoko Ogawa, serta buku Ai Weiwei on Censorship yang membahas pandangan seniman sekaligus aktivis Ai Weiwei mengenai sensor.
Sementara itu, tema Voice menghadirkan karya-karya yang mengangkat suara kelompok yang selama ini kerap terpinggirkan.
Beberapa di antaranya adalah The Color Purple karya Alice Walker, The Satanic Verses karya Salman Rushdie, On Earth We're Briefly Gorgeous karya Ocean Vuong, dan My Pen Is The Wing Of A Bird: New Fiction by Afghan Women.
Adapun kategori Memory berfokus pada hubungan antara sejarah, ingatan, dan upaya menghapus jejak masa lalu. Rak ini memuat sejumlah buku seperti Pachinko karya Min Jin Lee, Patriot karya Alexei Navalny, The Unbearable Lightness of Being karya Milan Kundera, serta The Books of Jacob karya Olga Tokarczuk.
Perpustakaan Manifesto resmi dibuka pada 30 Juni 2026 dan kini telah dapat dikunjungi oleh masyarakat umum. Melalui proyek ini, Dua Lipa berharap para pembaca memiliki ruang untuk mengeksplorasi berbagai gagasan secara bebas sekaligus memahami pentingnya menjaga kebebasan berekspresi melalui literasi.
(ikh/ikh)
Loading ...

3 hours ago
1
















































