Kabar Baik bagi Pendaki! Pos 8 Bawakaraeng Kini Punya Toilet dan Mushola untuk Dukung Wisata Ramah Lingkungan

9 hours ago 7

Makassartoday.com, Gowa – Kawasan hulu Gunung Bawakaraeng tengah bersolek menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Melalui inisiasi Pusat Pengendalian Pembangunan Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Sulawesi dan Maluku, ratusan relawan dari berbagai sektor turun tangan dalam aksi bersih-bersih dan pembangunan fasilitas umum di Pos 8 jalur pendakian Gunung Bawakaraeng, Rabu (13/5/2026).

Kegiatan bertajuk “Korve Aksi Bersih” ini bukan sekadar seremoni. Fokus utamanya adalah menyelesaikan pembangunan langgar (mushola) dan fasilitas sanitasi permanen guna menjawab tantangan pencemaran lingkungan yang kian serius di kawasan strategis Sulawesi Selatan tersebut.

Darurat Sanitasi dan Ancaman Bakteri E.Coli

Gunung Bawakaraeng merupakan daerah tangkapan air utama bagi jutaan warga di Kabupaten Gowa dan Kota Makassar. Namun, tingginya tren pendakian menyisakan masalah pelik: sampah anorganik dan limbah manusia yang tidak terkelola.

Periklanan

Ad imageAd image

Tanpa fasilitas toilet yang memadai, limbah manusia di area camp berisiko tinggi mengontaminasi sumber air dengan bakteri E.coli. Kondisi inilah yang memicu Pusdal LH merangkul Pemerintah Provinsi Sulsel, Pemda Gowa, TNI/POLRI, hingga perusahaan besar seperti PT Vale, Pertamina, dan PLN untuk melakukan intervensi fisik secara swadaya.

Kepala Pusdal LH Sulawesi dan Maluku, Dr. Azri Rasul, SKM., MH., menegaskan bahwa menjaga Bawakaraeng sama dengan menjaga kelangsungan hidup masyarakat di hilir.

“Gunung Bawakaraeng bukan hanya destinasi pendakian, tetapi juga kawasan penyangga kehidupan. Fasilitas sanitasi yang layak adalah investasi lingkungan jangka panjang agar air yang dikonsumsi masyarakat tetap sehat,” ujar Azri Rasul.

Infrastruktur Hijau di Pos 8

Target ambisius ditetapkan: seluruh fasilitas sanitasi, wadah sampah, hingga tempat ibadah di Pos 8 harus rampung sebelum 5 Juni 2026. Pembangunan ini mengedepankan konsep infrastruktur hijau yang ramah lingkungan.

Selain pembangunan fisik, aksi ini menekankan edukasi responsible mountaineering. Para pendaki kini diwajibkan membawa turun kembali sampahnya untuk disetorkan ke Bank Sampah Unit (BSU) di wilayah Lembanna dan Bulu Ballea.

Sebagai simbol kampanye pengurangan sampah plastik, panitia membagikan 250 tumbler edukatif kepada para peserta untuk mendorong budaya membawa botol minum sendiri saat mendaki.

Sinergi Pentahelix

Aksi ini menjadi potret nyata kolaborasi pentahelix—melibatkan pemerintah, komunitas pecinta alam, akademisi, media, hingga sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Sinergi ini diharapkan menjadi model yang bisa direplikasi di kawasan konservasi lain di Indonesia. Dengan fasilitas yang lebih baik dan kesadaran pendaki yang meningkat, semangat “Indonesia ASRI” (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) diharapkan bukan lagi sekadar slogan, melainkan identitas baru bagi dunia pendakian tanah air.

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |