Makassartoday.com, Makassar – Kepemimpinan Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin dan Wakil Wali Kota Aliyah Mustika Ilham kembali menorehkan prestasi gemilang di tingkat nasional. Di tengah kompleksitas dinamika sosial perkotaan, Makassar resmi menembus peringkat 10 besar kota berpenduduk di atas satu juta jiwa dengan tingkat toleransi terbaik di Indonesia.
Penetapan ini berdasarkan rilis Indeks Kota Toleran (IKT) oleh SETARA Institute yang diluncurkan di Jakarta pada Rabu (22/4/2026). Capaian ini menjadi bukti konkret keberhasilan Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar dalam merawat harmoni dan keberagaman warganya.
Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, Ismail Hasani, mengungkapkan fakta mengejutkan terkait progres Kota Daeng. Makassar mencatat lonjakan peringkat yang sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Jika pada IKT 2024 Makassar berada di posisi ke-52, maka pada IKT 2025 mengalami kenaikan drastis dengan lompatan 43 peringkat hingga menempati posisi ke-9 nasional. Lompatan ini cukup tinggi dan menunjukkan adanya kemajuan signifikan dalam mendorong praktik toleransi di tingkat kota,” jelas Ismail.
Ismail menambahkan, studi IKT bertujuan mengidentifikasi praktik baik (best practices) pemerintah dan masyarakat dalam tata kelola kebhinekaan. Dengan capaian ini, Makassar dinilai layak menjadi salah satu rujukan nasional dalam pengelolaan keberagaman yang inklusif.
Bukan Capaian Instan
Menanggapi prestasi bergengsi ini, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Makassar, Fathur Rahim, menegaskan bahwa lonjakan tersebut bukan sesuatu yang instan.
Menurutnya, pencapaian ini adalah buah dari kerja kolektif dan implementasi kebijakan yang terukur di era kepemimpinan Munafri-Aliyah.
“Pak Wali dan Ibu Wawali berhasil menerjemahkan visi Makassar sebagai kota inklusif ke dalam program-program konkret yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat,” ujar Fathur.
Ia merinci sejumlah langkah strategis Pemkot Makassar. Mulai dari memfasilitasi peringatan hari besar keagamaan seluruh umat, memberikan dukungan dana hibah untuk organisasi keagamaan, hingga menetapkan 10 “Kelurahan Sadar Kerukunan” sebagai wilayah percontohan pada Maret 2026 lalu.
“Ini bukan sekadar prestasi administratif, tetapi komitmen jangka panjang untuk memastikan Makassar tetap menjadi rumah bersama yang aman dan nyaman bagi seluruh umat beragama,” tegasnya.
Apresiasi dari Tokoh Agama
Sinergi yang solid ini juga diamini oleh Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar, Prof. Arifuddin Ahmad. Ia menilai birokrasi, kepemimpinan politik, dan elemen masyarakat kini berjalan searah.
Pengakuan terhadap Makassar, kata Prof. Arifuddin, juga semakin lengkap dengan diraihnya penghargaan Harmony Award 2025 oleh FKUB Kota Makassar baru-baru ini.
“Kepemimpinan Pak Wali Kota memberikan arah kebijakan yang inklusif, birokrasi menjalankan program secara konsisten, dan elemen masyarakat turut menjaga nilai-nilai toleransi. Ini adalah hasil kerja bersama,” ungkap Prof. Arifuddin, Sabtu (2/5/2026).
Kini, dengan masuknya Makassar ke dalam daftar elit 10 besar IKT, posisinya sejajar dengan kota-kota besar lainnya seperti Semarang, Surabaya, Jakarta, hingga Medan.
Hal ini menjadi indikator penting bahwa Makassar tak hanya berkembang pesat sebagai kota metropolitan dari sisi ekonomi dan infrastruktur, melainkan juga sebagai ruang hidup yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan keadilan sosial.


















































