Jakarta -
Olahraga lari yang kini semakin digemari masyarakat ternyata menyimpan risiko cedera yang kerap tidak disadari. Salah satu faktor utamanya berasal dari kondisi anatomi kaki, seperti flat feet hingga bentuk kaki O atau X.
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta Pusat pada Kamis (16/4), dokter olahraga dr. Zeth Boroh mengungkapkan bahwa struktur kaki memiliki peran besar dalam menentukan risiko cedera saat berlari.
"Lari itu sebenarnya olahraga yang relatif aman. Tapi cedera bisa terjadi karena faktor risiko, salah satunya anatomi kaki," ujar dr. Zeth Boroh.
Menurutnya, kondisi flat feet atau telapak kaki datar dapat menyebabkan distribusi beban tubuh menjadi tidak merata saat berlari. Hal ini meningkatkan gesekan antara telapak kaki dan permukaan tanah, terutama jika dilakukan dalam durasi lama.
"Flat feet bisa menyebabkan pembebanan tidak seimbang. Kalau lari berjam-jam, risiko cedera akan meningkat," jelasnya.
Tak hanya itu, bentuk kaki O dan X juga berpengaruh pada pola gerakan tubuh. Ketidakseimbangan beban antara kaki kanan dan kiri dapat memicu tekanan berlebih pada sendi tertentu.
"Kalau pola kaki tidak normal, pembebanannya tidak sama. Ini yang akhirnya memicu cedera," lanjutnya.
Selain faktor anatomi, penggunaan sepatu yang tidak sesuai juga menjadi penyebab umum cedera pada pelari. Banyak kasus di mana pelari mengalami nyeri setelah menggunakan sepatu yang tidak mendukung struktur kaki mereka.
"Sepatu yang tidak sesuai bisa langsung terasa dampaknya, bahkan setelah satu jam lari," tambahnya.
Dr. Zeth juga menekankan pentingnya pemeriksaan kondisi kaki sebelum rutin berlari, terutama bagi pemula. Dengan mengetahui kondisi anatomi, risiko cedera dapat diminimalkan melalui penyesuaian teknik dan perlengkapan.
"Seharusnya sebelum rutin lari, kondisi kaki diperiksa dulu supaya bisa disesuaikan," tutupnya.
(ANN/fik)
Loading ...

5 hours ago
4
















































