5 Penyebab Orang Haus Validasi, Rasa Trauma hingga Kesepian

11 hours ago 5

5 Penyebab Orang Haus Validasi, Rasa Trauma hingga Kesepian

Di era media sosial yang serba cepat, kebutuhan untuk diakui sering kali berubah menjadi haus validasi.

Tanpa sadar, tidak sedikit orang yang menggantungkan rasa percaya diri pada pujian, likes, atau pengakuan dari lingkungan sekitar baik dalam lingkup pertemanan maupun dunia kerja.

Di circle pertemanan, misalnya, ada yang merasa harus selalu tampil paling update, paling sibuk, atau paling sukses agar dianggap relevan.

Sementara di kantor, sebagian orang rela bekerja melampaui batas bukan lagi demi profesionalisme, melainkan demi mendapat pengakuan atasan atau sekadar disebut 'paling bisa diandalkan'.


Jika tak mendapat apresiasi, suasana hati bisa langsung berubah, merasa tidak dihargai, bahkan tersisih.

Fenomena haus validasi ini perlahan membentuk relasi yang tidak sehat.

Pertemanan jadi terasa kompetitif, dan lingkungan kerja berubah menjadi ajang pembuktian tanpa henti.

Padahal, validasi eksternal sifatnya sementara. Ketika standar pengakuan terus naik, kepuasan pun tak pernah benar-benar terasa cukup.

Definisi Haus Validasi

Dari laman Very Well Mind, haus validasi atau perilaku mencari perhatian adalah keinginan untuk diperhatikan terus-menerus yang didorong perasaan harga diri rendah, kecemburuan, kesepian, hingga kondisi kejiwaan tertentu.

Perilaku ini muncul bisa ekstrem atau berlebihan hingga perilaku mencari perhatian yang terjadi dan dapat bersifat manipulatif maupun pasif agresif.

Hal ini akan membuat orang lain menjauh karena tak nyaman. Dalam beberapa kasus, haus validasi yang parah disebabkan oleh masalah kesehatan mental atau gangguan kepribadian yang mengganggu interaksi sosial.

Ciri Haus Validasi

Dikutip melalui laman HaiBunda, ada 10 ciri orang yang haus validasi seperti:

  1. Bersikap terlalu dramatis dan emosional tanpa alasan jelas.
  2. Membuat pernyataan kontroversial atau menyinggung untuk memancing konflik.
  3. Sering merendahkan diri sendiri
  4. Sering membuat unggahan samar yang memancing pujian atau justru memicu perdebatan di media sosial.
  5. Terus-menerus membanggakan diri sendiri, harta benda, atau pencapaian pribadi.
  6. Berpakaian atau bersikap provokatif di situasi yang tidak pantas.
  7. Berbohong atau melebih-lebihkan cerita agar terdengar lebih menarik.
  8. Merasa kesal atau cemburu ketika tidak menjadi pusat perhatian dalam percakapan.
  9. Mengabaikan batasan orang lain untuk sekadar memancing reaksi.
  10. Berteriak, merusak barang, bahkan melakukan tindakan kekerasan untuk menarik perhatian orang lain.

Penyebab Haus Validasi

Ada lima penyebab seseorang haus validasi yakni:

1. Tak Percaya Diri

Menurut Timothy Jeider dari Pysch Central, beberapa orang ingin mendapatkan validasi karena punya masalah dengan kepercayaan dirinya.

2. Muncul Trauma di Masa Kecil

Trauma masa kecil seperti mendapat kekerasan atau penelantaran dari keluarga dan lingkungan sekitar menimbulkan perasaan tak aman hingga merasa tak dicintai.

Masa anak-anak memainkan peran besar dalam kepribadian seseorang di masa depan.

3. Kesepian

Masih menurut Timothy Jeider, kondisi ketiga yang memicu haus validasi adalah kesepian maupun kecemburuan. Orang yang kesepian akan mencari validasi melalui media sosial.

4. Gangguan Emosional

Penyebab yang keempat adalah gangguan emosional seperti stres pascatrauma (PTSD) dan gangguan stres pascatrauma kompleks (CPTSD) yang melingkupi berbagai gejala.

Cirinya adalah perubahan suasana hati yang tiba-tiba berubah, pikiran mengganggu, agresivitas, hingga kewaspadaan berlebihan.

5. Stres

Saat ada dalam situasi yang penuh kekerasan, orang mungkin akan melakukan apapun caranya demi bisa bertahan hidup dengan mencari perhatian dan pengakuan di luar.

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |