Apa Itu Latte Factor? Kebiasaan Remeh yang Bisa Jadi Penghancur Keuangan Pribadi
Tak sedikit orang yang merasa sudah bekerja setiap hari, tetapi tabungan dirasa sulit bertambah atau bahkan berkurang untuk memenuhi kebutuhan lain. Gaji yang diterima kemudian dirasa 'menghilang' tanpa jejak jelas.
Jika Anda pernah merasakan hal ini, maka Latte Factor bisa menjadi penyebabnya. Istilah ini populer di dunia literasi keuangan karena menggambarkan kebiasaan pengeluaran yang kecil dan sepele, tetapi punya dampak besar dalam jangka panjang terhadap keuangan pribadi.
Lantas apa itu Latte Factor dan bagaimana pengaruhnya terhadap keuangan pribadi dalam jangka panjang? Berikut merupakan ulasannya.
Apa Itu Latte Factor?
Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh David Bach dalam bukunya yang bertajuk The Automatic Millionaire (2003). Istilah ini merujuk pada kebiasaan untuk membeli secangkir latte setiap hari sebagai simbol pengukuran kecil yang rutin dilakukan tanpa disadari.
Secara sederhana, istilah Latte Factor merujuk pada kebiasaan pengeluaran kecil tapi konsisten yang jika dijumlahkan dalam jangka panjang bisa menghambat pertumbuhan keuangan.
Hal ini tak berarti produk kopi merupakan musuh keuangan. ‘Latte’ hanya simbol yang merujuk pada pengeluaran kecil seperti kopi harian, belanja online, hingga langganan streaming yang jarang dipakai atau top-up game yang rutin dilakukan meski dalam nominal kecil.
Kenapa Latte Factor Punya Dampak Besar Terhadap Keuangan?
Masalah utama Latte Factor bukan pada nominal yang dikeluarkan, tetapi konsistensi tindakan yang dilakukan. Misalnya Anda mengeluarkan Rp25 ribu per hari, yang jika dilakukan dalam 30 hari bisa mencapai Rp750 per bulan.
Jika dihitung dalam 10 tahun, bisa mencapai Rp90 juta. Jika nilai tersebut diinvestasikan dengan imbal hasil 8 persen per tahun, tentunya nilainya akan jauh lebih besar. Hal ini lah yang membuat Latte Factor jadi konsep yang kuat secara psikologis dan matematis.
Cara Mengendalikan Latte Factor
Latte Factor tak selalu menjadi hal buruk. Konsep ini sering disalahpahami oleh banyak orang seolah kesenangan kecil harus dihilangkan. Padahal, hal yang perlu dituju adalah keseimbangan dalam pengeluaran.
Penghematan yang berlebihan justru bisa mengorbankan kualitas hidup. Oleh karena itu, Latte Factor hanya perlu dikendalikan sesuai dengan pendapatan seseorang. Mengendalikan Latte Factor bisa dilakukan dengan cara yang tidak menyiksa seperti berikut:
1. Terapkan Concious Spending
Anda tak perlu menghapus pengeluaran rutin yang dilakukan sehari-hari, tetapi hal yang benar-benar harus dilakukan adalah memilih pengeluaran rutin yang memang memberikan kebahagiaan. Jangan lakukan pembelian impulsive yang tidak bermakna.
2. Gunakan Sistem Anggaran 50/30/20
Sistem pengeluaran ini berarti 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk keinginan, dan 20 persen untuk tabungan atau investasi. Selama pengeluaran kecil masih dalam porsi ‘keinginan’, maka keuangan Anda tetap sehat.
3. Gunakan Sistem Investasi Otomatis
Otomatisasi adalah kunci dalam mengelola keuangan pribadi. Sistem otomatis seperti auto-investasi tabungan, reksa dana, atau dana darurat bisa mengurangi hasrat Anda untuk membelanjakan uang yang baru masuk ke rekening.
4. Terapkan Aturan 24 Jam
Ketika Anda ingin melakukan pembelian tidak pokok seperti barang hobi dan lainnya, tunda 24 jam sebelum memutuskan untuk membeli. Jika setelah 24 jam keinginan impulsive hilang, Anda berarti tidak benar-benar menginginkan barang tersebut.
Loading ...

15 hours ago
15
















































