Dari Crazy Rich Semarang Jadi Ibu Negara China, Kisah Oei Hui-lan Bak Dongeng Dunia Nyata

10 hours ago 6

Jakarta -

Jauh sebelum istilah 'crazy rich' populer di media sosial, Indonesia ternyata pernah memiliki sosok perempuan yang hidup dalam kemewahan luar biasa dan kemudian menjadi Ibu Negara China. Perjalanan hidupnya bahkan disebut layaknya cerita dalam novel atau film layar lebar.

Perempuan tersebut adalah Oei Hui-lan, putri dari pengusaha gula legendaris asal Semarang yang kemudian menikah dengan diplomat dan pemimpin Republik China, Wellington Koo.

Dari kehidupan penuh kemewahan di Hindia Belanda hingga mendampingi suaminya di panggung politik internasional, kisah Oei Hui-lan menjadi salah satu cerita paling menarik dalam sejarah.

Oei Hui-lan lahir di Semarang pada 21 Desember 1889. Ia merupakan putri dari Oei Tiong Ham dan Goei Bing Nio.


Nama Oei Tiong Ham sangat terkenal pada masanya. Ia dikenal sebagai pengusaha gula terbesar di Asia Tenggara dan dijuluki 'Raja Gula dari Semarang'. Kekayaannya saat itu disebut mencapai sekitar 200 juta gulden, jumlah yang jika dihitung dengan nilai saat ini setara puluhan triliun rupiah.

Berkat kekayaan keluarganya, Hui-lan tumbuh dalam lingkungan yang serba mewah. Dalam buku memoarnya berjudul Oei Hui-lan: Kisah Putri Sang Raja Gula dari Semarang, ia menceritakan bagaimana masa kecilnya dipenuhi berbagai fasilitas yang hanya bisa dinikmati kalangan elite.

Keluarganya tinggal di rumah megah yang berdiri di atas lahan sekitar 80 hektare. Di dalam kompleks tersebut terdapat vila pribadi, paviliun, pelayan, koki khusus, hingga berbagai fasilitas hiburan.

"Ayah menginginkan pesta ulang tahun saya menjadi sangat istimewa. Berapa pun biayanya, tidak masalah baginya," kenang Oei Hui-lan dalam memoarnya.

Tak hanya itu, jika ingin berlibur, ia cukup menentukan tujuan yang diinginkan dan seluruh kebutuhan perjalanan akan dipersiapkan. Kehidupan seperti itu membuat Hui-lan memiliki kesempatan bertemu banyak tokoh penting dunia sejak usia muda.

Jaringan pergaulan internasional yang dimiliki keluarganya membawa Hui-lan berkenalan dengan berbagai tokoh berpengaruh, termasuk anggota keluarga kerajaan Inggris dan pejabat tinggi China.

Salah satu sosok yang kemudian mengubah hidupnya adalah Wellington Koo.

Keduanya bertemu di London pada awal dekade 1920-an. Saat itu Hui-lan berstatus janda dan tinggal bersama ibunya di Eropa. Sementara Wellington Koo merupakan diplomat ternama China yang memiliki reputasi besar di dunia internasional.

Koo dikenal sebagai salah satu tokoh penting diplomasi China dan berperan dalam berbagai perundingan internasional setelah Perang Dunia I. Ia juga termasuk figur yang ikut terlibat dalam pembentukan League of Nations atau Liga Bangsa-Bangsa.

Hubungan mereka berkembang dengan cepat hingga akhirnya menikah di Brussel, Belgia, pada 1921.

Karier politik Wellington Koo terus menanjak setelah pernikahan mereka. Pada 1922, ia dipercaya menjabat Menteri Luar Negeri sekaligus Menteri Keuangan Republik China.

Puncak kariernya terjadi pada 1926 ketika ia ditunjuk sebagai pelaksana tugas Presiden Republik China setelah wafatnya Sun Yat-sen.

Sejak saat itu, Oei Hui-lan resmi menyandang status sebagai Ibu Negara China.

Dalam berbagai kesempatan, Hui-lan aktif mendampingi suaminya menghadiri pertemuan internasional dan membantu membangun hubungan diplomatik China dengan negara-negara lain. Penampilannya yang elegan serta kemampuannya bergaul dengan kalangan elite dunia membuatnya dikenal luas di berbagai negara.

Masa jabatan Wellington Koo sebagai pemimpin negara tidak berlangsung lama. Setelah meninggalkan kursi pemerintahan pada 1927, pasangan ini lebih banyak tinggal di berbagai kota besar dunia seperti Shanghai, Paris, dan London.

Meski tidak lagi berada di pusat pemerintahan, keduanya tetap menjadi bagian penting dari kalangan diplomatik internasional selama bertahun-tahun.

Namun, setelah puluhan tahun bersama, hubungan mereka akhirnya berakhir pada 1958.

Setelah berpisah, Hui-lan menetap di New York, Amerika Serikat, dan fokus membesarkan ketiga anaknya.

Meski lama tinggal di luar negeri, Oei Hui-lan tidak sepenuhnya melupakan Indonesia, tanah kelahirannya.

Pada 1986, ia sempat mencoba kembali berbisnis di Indonesia melalui beberapa sektor, mulai dari pelayaran, tembakau, hingga perdagangan sepeda. Namun, usaha-usaha tersebut tidak berkembang sesuai harapan dan akhirnya berhenti beroperasi.

Meski demikian, namanya tetap dikenang sebagai salah satu perempuan Indonesia yang pernah memiliki pengaruh besar di panggung internasional.

Oei Hui-lan menghabiskan masa tuanya di New York. Ia meninggal dunia pada 1992 dalam usia 102 tahun, sebuah usia yang sangat panjang untuk ukuran zamannya.

Meski wafat jauh dari kota kelahirannya, Semarang, kisah hidupnya tetap dikenang sebagai perjalanan luar biasa seorang perempuan Indonesia yang berhasil menembus lingkaran elite dunia.

Dari putri seorang konglomerat gula hingga menjadi Ibu Negara China, perjalanan hidup Oei Hui-lan menjadi bukti bahwa sejarah sering kali menyimpan kisah-kisah yang lebih menarik daripada cerita fiksi.

(yoa/fik)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |