Jakarta -
Emilia Clarke Pernah Merasa Kematian Akan Menjemputnya, Trauma Pendarahan Otak Bayangi Masa Kejayaan Game of Thrones
Di balik kesuksesannya sebagai pemeran Daenerys Targaryen dalam serial fenomenal Game of Thrones, aktris Emilia Clarke menyimpan pengalaman yang nyaris merenggut nyawanya.
Saat berbicara dalam acara Variety Power of Women London 2026 di London pada 3 Juni 2026, Clarke mengungkapkan bahwa dirinya sempat hidup bertahun-tahun dengan keyakinan bahwa kematian suatu hari akan datang menjemputnya setelah mengalami dua kali pendarahan otak di usia muda.
"Selama beberapa tahun, saya merasa telah lolos dari maut, dan maut itu akan menjemput saya," ujar Clarke.
Aktris berusia 39 tahun itu mengaku sempat merasa keberadaannya seperti sebuah kesalahan setelah berhasil selamat dari kondisi medis yang mengancam nyawa tersebut.
"Saya benar-benar merasa telah melakukan kesalahan, dan seharusnya saya tidak berada di sini. Saya juga berpikir itu menghancurkan kemampuan saya untuk berakting," katanya sambil berseloroh.
Momen paling sulit dalam hidup Clarke justru datang ketika kariernya sedang melesat. Ia mengalami pendarahan otak pertama pada usia 22 tahun, bertepatan dengan proses syuting musim pertama Game of Thrones yang kemudian mengubah hidupnya.
Dua tahun kemudian, ketika usianya menginjak 24 tahun dan sedang menjalani debut Broadway melalui adaptasi panggung Breakfast at Tiffany's, pendarahan otak kedua kembali terjadi.
"Saya berusia 22 tahun ketika mengalami pendarahan otak pertama saya, 24 tahun ketika mengalami yang kedua. Saya juga berusia 22 tahun ketika syuting musim pertama Game of Thrones, dan 24 tahun ketika melakukan debut Broadway saya," ungkapnya.
Meski harus menjalani operasi otak dan proses pemulihan yang berat, Clarke berhasil kembali bekerja hanya beberapa minggu setelah kedua insiden tersebut.
Clarke mengakui bahwa dirinya tidak pernah benar-benar memiliki waktu untuk memproses trauma yang dialami. Kesibukan syuting membuatnya terus melangkah tanpa memahami dampak besar yang ditinggalkan cedera otak tersebut.
Ia mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun dirinya mengalami berbagai gejala, mulai dari gangguan hormon, kecemasan, hingga kondisi fisik yang memburuk. Namun, semua itu ia anggap sebagai konsekuensi normal dari tekanan pekerjaan.
"Kadang saya pingsan setelah syuting malam yang panjang. Tubuh saya terasa sakit di mana-mana. Tetapi saya bahkan tidak berpikir untuk mencari tahu penyebabnya," katanya.
Menurut Clarke, dampak cedera otak jauh lebih kompleks daripada yang dibayangkan banyak orang. Kondisi tersebut bukan hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga dapat mengguncang identitas dan kepercayaan diri seseorang.
Ia menjelaskan bahwa kepribadian, kecerdasan, selera humor, hingga ingatan manusia semuanya berasal dari otak. Karena itu, ketika fungsi otak terganggu, seseorang bisa merasa kehilangan dirinya sendiri.
"Hal itu dapat membuat Anda takut dan yakin bahwa Anda tidak akan pernah menjadi diri Anda yang dulu lagi," ujarnya.
Meski demikian, Clarke menegaskan bahwa pemulihan tetap mungkin terjadi. Pengalaman pribadinya menjadi alasan utama mengapa ia aktif menyuarakan pentingnya dukungan kesehatan mental bagi penyintas cedera otak.
Pada 2019, Emilia Clarke bersama ibunya, Jennifer Clarke, mendirikan organisasi amal SameYou. Organisasi tersebut berfokus pada peningkatan layanan rehabilitasi dan dukungan kesehatan mental bagi orang-orang yang mengalami stroke, pendarahan otak, maupun cedera otak traumatis.
Melalui yayasan itu, Clarke berharap para penyintas tidak merasa sendirian menghadapi proses pemulihan yang panjang dan sering kali tidak terlihat oleh orang lain.
Baginya, pengalaman selamat dari dua kali pendarahan otak menjadi bukti bahwa meski perjalanan pemulihan penuh tantangan, seseorang tetap bisa membangun kembali kehidupannya dan menemukan rasa percaya diri yang sempat hilang.
(ikh/ikh)
Loading ...

2 hours ago
1
















































