Geger Kasus Dugaan Pemalsuan Identitas dan Riset AI oleh Oknum Ilmuwan Indonesia

5 hours ago 4

Jakarta -

Media sosial tengah dihebohkan dengan kasus dugaan pemalsuan di konferensi internasional yang dilakukan oleh ilmuwan Indonesia.

Kasus ini pertama kali terungkap setelah peneliti asal Indonesia, Ida Bagus Mandhara Barsika dan Hanifah Fajri Maharani, yang mengikuti konferensi ilmiah International Society of Pneumonia & Pneumococcal Diseases (ISPPD) yang digelar di Kopenhagen, Denmark, menemukan kejanggalan dari presentasi beberapa delegasi Indonesia.

Melalui Instagram pribadinya, Mandhara dan Hanifah menyebut ada tim peneliti Indonesia dengan anggota bernama Prihatini, Dimas Fajar Prasetyo, Aminatus Saadah, dan Riana Dwi Kurniati diduga melakukan pemalsuan identitas dan riset.

"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia. Hal ini terungkap di konferensi ilmiah ISPPD 2026, sebuah konferensi ilmiah bergengsi untuk ahli pneumonia di seluruh dunia yang tahun ini diadakan di Kopenhagen, Denmark," tulis unggahan Mandhara yang dilihat Selasa (26/5).


"Salah satu pelaku melakukan pemalsuan identitas. Modusnya pelaku berganti-ganti nama saat presentasi, bermodal ganti jilbab dan nametag. Yang lebih gila, bukan hanya identitas, risetnya pun palsu," lanjutnya.

Terduga pelaku diduga membuat abstrak penelitian dari riset yang tidak pernah ada. Datanya pun diduga palsu dan dibuat oleh AI.

"Lokasi riset tidak masuk akal: Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Jordan, Bangladesh, South Sudan, Philippines, Kenya, Nepal, Malawi, India Utara. Tapi perisetnya semua Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik," terangnya.

[Gambas:Instagram]

Motif para ilmuwan bodong melakukan hal ini diduga untuk mendapat dana travel grant atau uang perjalanan, serta dana riset yang nilainya tak sedikit.

Seperti diketahui, travel grant bisa berkiar Rp3 juta hingga Rp25 juta tergantung penyelenggara dan jarak tujuan. sedangkan dana riset berkisar jutaan hingga miliaran rupiah.

"Dengan cara ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa keluar negeri 'gratis'. Gratis, karena yang 'bayar' mahal adalah Indonesia yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia," jelasnya.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan dari terduga pelaku. Sementara itu, pihak pemerintah mengaku belum menerima laporan terkait skandal ini.

(dia/dia)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |