Jakarta -
Media sosial dihebohkan dengan kejadian yang terjadi Universitas Negeri Sultan Syarief Kasim (UIN Suska) Pekanbaru, Riau.
Terjadi pembacokan yang dilakukan oleh mahasiswa terhadap temannya yang sedang menunggu sidang skripsi. Pelaku bernama Raihan Mufazzar itu membacok korban FAP. Polisi menyebut aksi mengerikan itu terjadi karena Raihan merasa sakit hati pada FAP usai cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Antara korban dan pelaku ini mereka saling mengenal. Jadi pelaku ini dengan sengaja sudah punya niat mau menganiaya korban," beber Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru AKP Anggi Rian.
Hal yang terjadi pada Raihan dan FAP itu pun menjadi perhatian. Terlebih rasa sakit hati bisa membuat seseorang berani melakukan hal nekat.
Menurut dokter spesialis kesehatan jiwa dr Lahargo Kembaren, SpKJ, secara psikologis emosi yang dirasakan ini bukan hanya reaksi sementara. Tapi akumulasi dari berbagai pengalaman subjektif.
"Ketika seseorang merasa sangat terluka atau diperlakukan tidak adil, reaksi emosi seperti marah, frustrasi, dan perasaan ingin 'mengembalikan keseimbangan' bisa muncul," beber dr Lahargo dalam laporan dari detikcom.
"Rasa ini bisa menjadi sangat kuat, sehingga pikirannya terus-menerus mengulang kejadian tersebut (ruminasi), ini kemudian menyebabkan hubungan emosionalnya dengan peristiwa negatif itu justru diperkuat, bukan dilepaskan," sambungnya.
Rasa campur aduk seperti marah dan sakit hati hingga kurangnya keterampilan untuk mengatur emosi membuat seseorang bisa bertindak nekat demi mengobati rasa sakit di hatinya.
"Dalam beberapa kasus, kombinasi marah yang kuat dan kurangnya keterampilan regulasi emosi dapat membuat seseorang beralih ke perilaku ekstrem untuk mengobati atau menetralkan perasaan tersebut," tutur dr Lahargo.
"Misalnya melakukan kekerasan terhadap orang yang dianggap telah menghancurkan harga dirinya. Ini adalah pola yang sering dijelaskan dalam psikologi sebagai upaya maladaptif untuk meredakan emosi negatif," lanjutnya.
Beda hal jika seseorang bisa mengontrol emosinya. Tindakan nekat seperti pembacokan mungkin tidak akan terjadi meski perasaan sakit hati masih dirasakan atau sulit untuk dilupakan.
"Misalnya, putus cinta diolah menjadi motivasi untuk memperbaiki diri: menjaga kesehatan (gym), fokus pada pendidikan atau karier, atau memperbaiki kemampuan sosial," ucapnya.
(agn/agn)
Loading ...

10 hours ago
9
















































