Jakarta -
Umat Islam diwajibkan untuk menunaikan sholat fardu lima waktu dalam sehari. Seperti diketahui, sholat fardu merupakan tiang agama dan salah satu rukun Islam.
Sholat fardu terdiri dari Subuh, Zuhur, Ashar, Magrib, dan Isya. Setiap waktu sholat, memiliki jumlah rakaat yang berbeda-beda, Subuh dua rakaat, Zuhur, Ashar, dan Isya empat rakaat, dan Magrib tiga rakaat.
Ternyata, perbedaan jumlah rakaat ini bukan tanpa alasan. Ketetapan soal jumlah rakaat setiap sholat fardu berdasarkan sejarah syariat yang pernah dikhususkan kepada para nabi sebelum masa Nabi Muhammad Saw, yang berkaitan dengan peristiwa penting serta ungkapan syukur atas pertolongan Allah Swt.
Berikut asal-usul dan latar belakang di balik perbedaan jumlah rakaat salat lima waktu:
1. Salat Subuh (2 Rakaat) - Kisah Nabi Adam as
Salat Subuh pertama kali dikerjakan oleh Nabi Adam as setelah diturunkan dari surga ke bumi. Dikisahkan, Nabi Adam as selalu merasa ketakutan dan cemas ketika bumi memasuki waktu malam dan berangsur gelap. Pasalnya, Nabi Adam belum pernah mengalami suasana gelap sebelumnya.
Ketika matahari terbit dan mulai menyinari bumi, Nabi Adam as menunaikan sholat dua rakaat sebagai bentuk rasa syukurnya atas kembalinya cahanya dan hilangnya ketakutan dengan kegelapan.
Sholat dua rakaat pada waktu subuh ini menjadi pengingat bahwa kasih sayang Allah Swt selalu menyertai umat manusia.
2. Salat Zuhur (4 Rakaat) - Kisah Nabi Ibrahim as
Salat Zuhur pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim as tepat pada saat matahari tergelincir di siang hari, setelah berhasil melaksanakan perintah Allah yang amat berat, yakni menyembelih putranya, Nabi Ismail as.
Nabi Ibrahim as pun menunaikan sholat empat rakaat sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah Swt, karena telah mengganti Nabi Ismail as dengan seekor biri-biri dari surga.
Empat rakaat pada sholat zuhur mencerminkan empat bentuk rasa syukur:
a. Atas tebusan (penggantian) bagi Nabi Ismail as.
b. Atas hilangnya kekhawatiran luar biasa sebagai seorang ayah.
c. Atas nikmat datangnya biri-biri dari surga.
d. Atas kedamaian serta kekuatan yang Allah karuniakan kepadanya sebagai hamba yang taat.
3. Salat Ashar (4 Rakaat) - Kisah Nabi Yunus as
Sholat ashar berkaitan dengan kisah Nabi Yunus as yang selamat dari dalam perut paus atas pertolongan Allah Swt. Ketika keluar dari perut paus, dikisahkan kondisi fisik Nabi Yunus as sagat lebah, ibarat anak burung yang baru menetas.
Hal ini dikarenakan selama berada di dalam perut paus, Nabi Yunus as mengalami empat kegelapan, yakni:
a. Gelapnya isi perut paus.
b. Gelapnya air laut yang dalam.
c. Gelapnya malam yang pekat.
d. Gelapnya pergerakan di dalam perut paus itu sendiri.
Nabi Yunus as keluar dari dalam perut paus bertepatan pada waktu ashar. Nabi Yunus as pun langsung menunaikan sholat empat rakaat sebagai bentuk rasa syukur atas pertolongan Allah Swt. yang telah menyelamatkannya dari empat kegelapan tersebut.
4. Salat Magrib (3 Rakaat) - Kisah Nabi Isa as
Salat Magrib pertama kali dikerjakan oleh Nabi Isa as ketika keluar dari tengah-tengah kaumnya pada saat matahari terbenam. Nabi Isa as menunaikan salat tiga rakaat, di mana setiap rakaatnya memiliki makna ketauhidan dan penghormatan yang mendalam:
a. Rakaat pertama: Ditujukan untuk menafikan (menolak) sifat ketuhanan dari selain Allah Ta'ala.
b. Rakaat kedua: Untuk menafikan tuduhan-tuduhan keji yang dilemparkan oleh kaumnya kepada ibunya, Maryam.
c. Rakaat ketiga: Untuk menetapkan pengakuan, penghormatan, dan penyembahan hanya kepada Allah semata.
Secara tata cara, dua rakaat pertama yang murni berkaitan dengan Allah dihimpun dalam satu tahiyat, sementara satu rakaat yang berkaitan dengan pembelaan terhadap ibunya tersendirikan.
5. Salat Isya (4 Rakaat) - Kisah Nabi Musa as
Salat Isya pertama kali dilakukan oleh Nabi Musa as ketika dirinya melarikan diri keluar dari negeri Madyan dan sempat tersesat di jalan. Dalam perjalanan yang penuh ketidakpastian itu, Nabi Musa as dilingkupi oleh empat kesedihan besar, yakni:
a. Kesedihan memikirkan kondisi istrinya.
b. Kesedihan memikirkan saudaranya, Nabi Harun as.
c. Kesedihan memikirkan nasib anak-anaknya.
d. Kesedihan atas penindasan kejam yang dilakukan oleh Firaun.
Allah Swt kemudian membebaskan dan memberikan jalan keluar bagi Nabi Musa dari seluruh kesedihannya tepat pada waktu Isya. Sebagai bentuk rasa syukur atas kasih sayang Allah yang menyelamatkannya, Nabi Musa as menunaikan salat empat rakaat.
(kpr/kpr)
Loading ...

3 hours ago
1
















































