Ramai Cukup Saya WNI, Ahli Ungkap Makna Psikologis di Baliknya

13 hours ago 5

Jakarta -

Beberapa waktu belakangan, media sosial dihebohkan dengan video Dwi Sasetyaningtyas, aktivis lingkungan sekaligus alumni LPDP, tentang status kewarganegaraan anaknya.

Wanita yang akrab disapa Tyas itu mengunggah momen dirinya menerima dokumen resmi dari Home Office Inggris yang menyatakan bahwa anak keduanya punya status sah sebagai warga negara Inggris sesuai ketentuan kelahiran di negara itu.

Tyas mengungkapkan bahwa keputusan mengambil status kewarganegaraan Inggris untuk anaknya diambil agar masa depan sang buah hati lebih terjamin. Ia juga menyebut cukup dirinya yang menjadi WNI, anak-anaknya tak perlu mengikuti.

"Dunia terlihat tidak adil tapi cukup aku saja yang WNI," kata Tyas yang lantas memicu kontroversi di kalangan warganet.


Berkaca dari kasus tersebut, psikiater dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, melihat sebetulnya ada dinamika psikologis yang kerap menjadi pilihan seseorang di balik mengunggah hal pribadi dan cenderung sensitif.

Menurutnya, salah satu alasan psikologis seseorang mengunggah hal pribadi adalah berkaitan dengan kebutuhan validasi dan cara individu mengelola emosi di ruang digital.

Seperti diketahui dalam dunia media sosial, seseorang secara tidak langsung menginginkan lebih banyak suka dan komentar yang memberikan efek dopamin atau rasa senang sementara.

"Otak manusia mendapat dopamin dari respons sosial seperti like, komentar, dan share. Ini membuat individu terdorong membagikan hal-hal yang sifatnya pribadi," kata Lahargo Kembaren dikutip dari detikcom, Senin (23/2).

"Posting-an sering dipakai untuk menunjukkan nilai diri, posisi sosial, perspektif atau cara pandang terhadap dunia," lanjutnya.

Dalam konteks isu kewarganegaraan atau masa depan anak, unggahan yang dilakukan oleh Tyas bisa jadi menjadi simbol kecemasan, aspirasi, bahkan proyeksi harapan pribadinya.

"Sebagian orang menulis di medsos untuk menenangkan diri, seperti menulis jurnal, tapi ini dilakukan di ruang publik. Kadang yang diposting bukan hanya tentang hidupnya, tapi kebutuhan untuk merasa dipahami," katanya.

Meski sebenarnya alasan ini tak menjadi masalah, media sosial tetap bukan tempat ideal untuk pemulihan psikis seseorang.

Media sosial menurut Lahargo hanya bisa menjadi ruang ekspresi sementara sehingga perlu kebijaksanaan dalam menggunakannya. Caranya, bisa mulai dengan mempertanyakan kepada diri sendiri apa unggahan yang akan diunggah hari ini akan tetap nyaman dibaca beberapa tahun ke depan.

"Tanya diri sendiri: apakah saya tetap nyaman jika posting-an ini dilihat lima tahun lagi?" ujarnya.

(dia/and)

Loading ...

Read Entire Article
Makassar Info | Batam town | | |