Jakarta -
Tasya Kamila menuai kontroversi setelah membagikan unggahan bertajuk Laporan Kontribusi Tasya Kamila bagi Indonesia sebagai Alumni Awardee LPDP.
Dalam unggahan tersebut, Tasya Kamila menyebutkan bentuk kontribusi dan tanggung jawab terhadap negeri setelah menyelesaikan pendidikan S-2 di Columbia University dengan bantuan beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang bersumber dari keuangan negara.
Namun, unggahan Tasya Kamila itu mengundang pro kontra di kalangan masyarakat. Selain pujian, kritik yang datang justru terlihat lebih banyak.
Salah satunya komentar akun @houseofvya yang mengutarakan ketidakpuasannya pada kontribusi Tasya sebagai penerima LPDP.
"Mbak kok impact-nya nggak sebesar dana yang dikeluarkan ya? Ini lebih mirip prokeran BEM/kantor, program CSR perusahaan, atau kegiatan ibu-ibu di lingkungan," tulis akun tersebut.
Tasya Kamila kemudian membalas komentar tersebut dengan permintaan maaf. Ia menyadari bahwa kontribusianya mungkin tidak menyenangkan semua orang.
"Huhu maaf ya aku belom bisa penuhin ekspektasi kamu sebagai penerima beasiswa. Alhamdulillah baik LPDP maupun orang-orang yang terdampak lewat berbagai gerakanku berkenan," balas Tasya Kamila.
"Tapi aku sadar memang aku nggak bisa memenuhi ekspektasi dan menyenangkan hati semua orang," sambungnya.
Namun, Tasya tak bisa menampik kesedihan yang dirasakan ketika usahanya memperbaikin lingkungan tidak berdampak. Ia merasa sudah menerapkan hasil belajarnya di universitas untuk memperbaiki lingkungan melalui gerakan akar rumput.
"Jujur aku sedih karena usahaku, gerakan akar rumput untuk lingkungan dibilang gak berdampak. Aku mempraktikkan keilmuan yang aku dapat di Columbia University, soal bagaimana kebijakan publik bisa efektif dijalankan melalui gerakan akar rumput dan bagaimana publik juga bisa mendorong kebijakan," ungkapnya.
"Kebetulan di tahun 2016, isu SDGs menjadi salah satu prioritas sehingga jurusan kuliahku menjadi salah satu yang diprioritaskan LPDP," tambah ibu dua anak itu.
Ia mengakui bahwa gerakan akar rumput ini memang bisa dilakukan siapa saja, bahkan mereka yang tidak kuliah di luar negeri. Namun dalam pelaksanaannya, tetap membutuhkan inisiator dan jembatan antara publik dan pembuat kebijakan.
"Gerakan-gerakan ini memang bisa dan justru HARUS dikerjakan siapa saja, tapi tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah untuk mengerjakannya," ujarnya.
"Harus pula ada yang menjembatani antara policymaker dan publik agar pesan tersampaikan sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tujuan lingkungan terwujud," lanjutnya.
Tasya menekankan bahwa ia tidak bekerja sendiri. Ia berkolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari kementerian, NGO, sekolah, hingga CSR perusahaan untuk memperluas dampak.
Selain itu, Tasya Kamila juga menyinggung soal dampak finansial sebagai penerima beasiswa. Ia menyebut kontribusi finansialnya berasal dari karya-karyanya di industri krearif.
"Kak, kalau mau ngomongin monetary impact, Alhamdulillah dari rezekiku dalam pekerjaanku di industri kreatif juga sudah berkontribusi untuk pajak. Kalau dihitung sejak aku lulus, pajak yang management-ku setorkan Insya Allah udah bisa nutup itu uang sekolahku," katanya.
"Insya Allah aku masih ada semangat untuk terus berdampak baik di tiap pekerjaan yang aku jalani. Ini baru sebagian dari perjalananku," tutupnya.
(KHS/dia)
Loading ...

16 hours ago
15
















































