Makassartoday.com, Teheran – Pasca pengumuman resmi dari media pemerintah Iran, IRNA, mengenai wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan udara pada Sabtu malam, perhatian dunia kini tertuju pada gedung Majelis Ahli (Assembly of Experts). Pertanyaan besar menyeruak: siapa yang akan memegang tongkat estafet kepemimpinan tertinggi Republik Islam Iran?
Berdasarkan konstitusi Iran, suksesi kepemimpinan tidak terjadi secara otomatis. Saat ini, Iran memasuki masa transisi di bawah kendali dewan sementara yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Kehakiman Gholam-Hossein Mohseni-Ejei, dan perwakilan dari Dewan Penjaga.
Meskipun proses pemilihan oleh 88 anggota Majelis Ahli bersifat rahasia, beberapa nama tokoh lokal telah lama menjadi perbincangan hangat di kalangan elit politik Teheran:
1. Mojtaba Khamenei (56): Putra kedua Ali Khamenei ini dianggap sebagai sosok yang memiliki pengaruh besar di balik layar, terutama dalam koordinasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Meski sering dikaitkan dengan suksesi dinasti, pencalonannya diprediksi akan menghadapi tantangan ideologis terkait prinsip anti-monarki revolusi 1979.
2. Alireza Arafi: Seorang ulama senior yang menjabat sebagai kepala sistem seminari Iran dan anggota Dewan Penjaga. Arafi dipandang sebagai figur “jalan tengah” yang memiliki kredibilitas teologis tinggi dan loyalitas tak tergoyahkan pada sistem Velayat-e Faqih.
3. Gholam-Hossein Mohseni-Ejei: Sebagai Kepala Kehakiman saat ini, ia memiliki dukungan kuat dari faksi garis keras dan aparat keamanan. Pengalamannya di bidang intelijen menjadikannya kandidat yang dianggap mampu menjaga stabilitas nasional di tengah krisis.
4. Hassan Khomeini: Cucu dari pendiri revolusi, Ayatollah Ruhollah Khomeini. Meskipun populer di kalangan reformis, langkahnya diprediksi akan dijegal oleh Dewan Penjaga karena pandangan politiknya yang dianggap terlalu moderat.
Laporan dari kantor berita Fars menyebutkan bahwa Majelis Ahli diperkirakan akan segera menggelar sidang darurat. Namun, analis politik lokal menekankan bahwa keputusan akhir tidak hanya bergantung pada suara ulama, tetapi juga pada “restu” dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
“Stabilitas adalah prioritas utama. Siapa pun yang terpilih harus mampu menyatukan faksi militer dan klerikal (ulama) di tengah tekanan internasional yang meningkat,” tulis salah satu kolom analisis di media Teheran.
Masa Transisi 50 Hari
Sesuai Pasal 111 Konstitusi Iran, Majelis Ahli harus segera memilih pemimpin baru. Selama masa tunggu ini, segala urusan kenegaraan yang biasanya memerlukan persetujuan Rahbar (Pemimpin Tertinggi) akan dikelola oleh dewan kepemimpinan sementara.
Pemerintah Iran telah menetapkan 40 hari masa berkabung nasional, dan seluruh mata akan memantau setiap pergerakan di Qom serta Teheran untuk melihat arah masa depan Iran di era pasca-Khamenei.


















































