Makassartoday.com, Makassar – Wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel) terus diguyur hujan dengan intensitas lebat dalam beberapa hari terakhir. Menanggapi kondisi tersebut, BMKG Wilayah IV Makassar memberikan penjelasan mendalam terkait fenomena atmosfer langka yang tengah terjadi di langit Indonesia, khususnya di atas Pulau Sulawesi.
Kolaborasi 4 Gelombang Ekuator
Menurut rilis resmi BMKG, cuaca buruk ini bukan tanpa sebab. Saat ini, terdapat empat gelombang ekuator yang aktif secara bersamaan di wilayah Indonesia. Keempatnya adalah:
- Depresi Tropis
- Madden-Julian Oscillation (MJO)
- Gelombang Rossby
- Gelombang Kelvin
Interaksi dari keempat fenomena ini menciptakan kondisi yang sangat mendukung pertumbuhan awan hujan secara masif.
Baca Juga: Makassar Masih Diguyur Hujan di Akhir April, Ini Penjelasan BMKG
Aktivitas atmosfer yang berbarengan ini jarang terjadi dan menjadi pemicu utama tingginya curah hujan di berbagai daerah.
Pengaruh Suhu Laut Banda
Selain faktor gelombang atmosfer, kondisi perairan di sekitar Sulawesi juga turut andil. Suhu muka laut yang hangat di Laut Banda menyebabkan penguapan air yang tinggi ke atmosfer.
Massa udara yang lembap ini kemudian terbawa oleh angin timuran menuju wilayah Sulawesi Selatan. Penumpukan uap air inilah yang membuat peluang terjadinya hujan lebat menjadi sangat tinggi di wilayah kabupaten/kota di Sulsel.
“Kombinasi antara suplai uap air yang melimpah dari laut yang hangat dan dorongan dari gelombang ekuator menciptakan kondisi cuaca yang sangat labil,” tulis Prakirawan Cuaca BMKG Wilayah IV Makassar dalam penjelasannya, Senin (18/5/2026).
Imbauan untuk Masyarakat
Mengingat kondisi ini diprediksi masih akan bertahan dalam beberapa waktu ke depan, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak yang ditimbulkan, seperti:
- Banjir dan genangan di wilayah dataran rendah.
- Tanah longsor di wilayah perbukitan atau lereng gunung.
- Pohon tumbang akibat angin kencang yang menyertai awan hujan.
Masyarakat disarankan untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca melalui aplikasi Info BMKG atau akun media sosial resmi BMKG Wilayah IV Makassar untuk mendapatkan pembaruan terkini terkait peringatan dini cuaca.
Mengenal Istilah “Tepung Sari” dalam Cuaca
Mungkin terdengar asing bagi masyarakat awam, namun dalam konteks fenomena atmosfer kali ini, istilah “Tepung Sari” digunakan sebagai analogi untuk menggambarkan kumpulan bahan baku pembentuk awan hujan yang terkonsentrasi di satu wilayah.
Secara teknis, fenomena ini merujuk pada kondisi di mana:
Akumulasi Massa Udara: Berbagai gelombang atmosfer (MJO, Rossby, Kelvin, dan Depresi Tropis) bekerja seperti “magnet” yang mengumpulkan kelembapan udara di satu titik.
Suplai Bahan Baku: Layaknya tepung yang menjadi bahan utama pembuat kue, uap air dari Laut Banda yang hangat menjadi “bahan baku” utama yang melimpah di atmosfer.
Proses Konveksi: Ketika semua “bahan” ini berkumpul dan terangkat ke atas karena dinamika atmosfer, maka terjadilah pertumbuhan awan hujan yang sangat masif dan berkelanjutan (persisten).
Penggunaan istilah ini menekankan bahwa hujan lebat yang terjadi di Sulawesi Selatan saat ini bukan sekadar hujan musiman biasa, melainkan hasil dari “adonan” berbagai fenomena skala global yang bertemu di satu titik koordinat yang sama.
Editor: Ariel







![[CEK FAKTA] Benarkah Anggaran Makan dan Minum Wali Kota Makassar Capai Rp10 Miliar Setahun?](https://makassartoday.com/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-16-at-21.59.57.jpeg)










































