Makassartoday.com, Makassar – Pemerintah Kota Makassar tengah menghadapi tantangan besar dalam urusan kebersihan. Berdasarkan data terbaru, capaian pengelolaan sampah di Kota Daeng saat ini masih berada di angka 2 persen, sangat jauh dari target nasional yang dipatok sebesar 51,2 persen.
Kondisi darurat ini menjadi bahasan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) Pengelolaan Sampah yang digelar di Auditorium Gedung PKK Kota Makassar, Jumat (17/4/2026). Forum ini melibatkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dewan Lingkungan Hidup, hingga camat dan lurah se-Kota Makassar.
TPA Tamangapa di Ambang Batas
Kekhawatiran utama muncul terkait daya tampung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Makassar. Anggota Dewan Lingkungan Hidup, Irwan Ridwan, mengungkapkan jika tidak ada intervensi besar-besaran, TPA diprediksi hanya mampu bertahan selama 1,5 tahun ke depan.
”Jika tidak dilakukan intervensi signifikan, daya tampung TPA diperkirakan hanya mampu bertahan dalam kurun waktu sekitar 18 bulan ke depan,” tegas Irwan.
Menanggapi hal itu, Kepala DLH Kota Makassar, Helmy Budiman, menegaskan bahwa sistem open dumping (sampah dibuang begitu saja) harus segera ditinggalkan dan beralih ke sistem sanitary landfill.
”Ke depan, kita harus beralih ke sistem di mana hanya residu yang masuk ke TPA. Artinya, pemilahan harus tuntas sejak dari rumah atau sumbernya,” ujar Helmy.
Solusi Teknologi dan Revitalisasi Bank Sampah
Sebagai solusi jangka panjang, Pemkot Makassar tengah menggodok pembangunan Pembangkit Sampah Energi Listrik (PSEL) di kawasan Tamangapa dengan kapasitas 1.300 ton per hari. Teknologi lain seperti Refuse Derived Fuel (RDF), gasifikasi, dan pirolisis juga mulai didorong untuk menekan volume sampah yang mencapai 1.034 ton per hari.
Selain teknologi, penguatan bank sampah menjadi kunci. Ketua Dewan Lingkungan Hidup, Melinda Aksa, menyoroti jumlah bank sampah aktif yang masih minim.
”Dari kebutuhan sekitar 300 unit, saat ini baru sekitar 100 bank sampah yang aktif beroperasi. Padahal, pemilahan di tingkat RT/RW adalah kunci utama,” kata Melinda.
Inspirasi dari Kecamatan Tallo
Meski secara umum masih rendah, Kecamatan Tallo muncul sebagai percontohan sukses. Wilayah ini mampu mereduksi 50 ton dari total 89 ton sampah harian mereka melalui integrasi program pengelolaan sampah dengan urban farming.
Namun, tantangan terbesar masih pada perilaku masyarakat. Banyak warga merasa sudah cukup hanya dengan membayar retribusi tanpa merasa perlu memilah sampah. Untuk itu, Pemkot Makassar akan menerjunkan “Tenaga Edukator Persampahan” guna mengubah pola pikir warga secara berkelanjutan.
Langkah Selanjutnya
Sebagai tindak lanjut FGD ini, Pemkot Makassar menginstruksikan seluruh camat untuk menyusun pemetaan (mapping) persoalan sampah di wilayah masing-masing.
”Penanganan sampah tidak bisa dilakukan secara parsial. Butuh kolaborasi lintas sektor dan langkah luar biasa untuk melakukan transformasi ini,” tutup Helmy.


















































